Surat Terakhir Untuk Chika

Surat Terakhir Untuk Chika

  • WpView
    Reads 4,187
  • WpVote
    Votes 410
  • WpPart
    Parts 10
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Jun 20, 2026
WpInfo
Fanfic
"Surat Terakhir untuk Chika" Zean Noviansyah adalah mahasiswa Fakultas Ekonomi yang hidupnya sederhana. Ia bukan anak orang kaya, tapi juga bukan dari keluarga miskin. Setiap pagi, ia berangkat ke kampus menunggangi motor Honda Genio kesayangannya motor yang sudah menemaninya sejak awal kuliah, menjadi saksi bisu dari setiap perjalanan, tawa, dan cinta yang ia alami. Di kampus, ada satu alasan yang membuat Zean selalu bersemangat: Yessica Mirah Qibthi, atau Chika, seorang mahasiswi Fakultas Psikologi yang ceria, cerdas, dan disukai banyak orang. Mereka bertemu secara sederhana, jatuh cinta tanpa banyak rencana, dan membangun hubungan yang hangat tanpa kemewahan. Zean yang pendiam dan realistis, Chika yang penuh warna dan spontan keduanya saling melengkapi. Hari-hari mereka diisi dengan hal-hal kecil: makan di kantin kampus, berkendara berdua dengan Genio-nya di sore hari, atau sekadar berbagi cerita tentang masa depan. Namun perlahan, segalanya berubah. Chika mulai menjauh. Pesannya jarang dibalas, tatapannya tak lagi sama. Di balik alasan "tugas kuliah" dan "organisasi," muncul nama lain: Aran seorang pria yang lebih dewasa, lebih mapan, dan pandai membuat Chika merasa istimewa. Zean tahu. Ia tahu sejak lama. Tapi ia memilih diam, berpura-pura tidak tahu, karena mencintai Chika baginya bukan soal memiliki, tapi menjaga agar Chika tetap bahagia meski bukan bersamanya. Saat cinta mereka mulai retak, Zean menyimpan rahasia lain yang jauh lebih besar: ia mengidap penyakit berat, dan dokter telah memberinya waktu yang tak lama lagi. Ia menanggung rasa sakitnya sendirian, tanpa pernah mengeluh. Hingga suatu malam, ketika tubuhnya sudah terlalu lemah untuk melawan, Zean menulis sebuah surat terakhir untuk Chika. Bukan surat kemarahan, bukan surat perpisahan penuh luka melainkan surat yang berisi permintaan maaf, kenangan, dan cinta yang tak sempat sembuh. Surat yang menjadi saksi ketulusan seorang pria sederhana yang mencintai tanpa syarat.
All Rights Reserved
#497
gitajkt48
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • THE ARCHON PRODIGY: Finding Home
  • Ravenmarch.
  • SATU ATAP, DUA KUBU [GREEZEE/ZEEGREE]
  • Di Antara Dua Takdir
  • BLACK WOLF
  • HARUS KAMU(hiatus)
  • FOUR CROWNS FOR THE STRANGER
  • NGGAK ADA YANG TAU
  • Cinta ini berawal dari Parkiran
  • Mengenal (Revisi)

Zeevan Mahendra punya segalanya yang diimpikan setiap remaja lelaki di dunia: Wajah tampan, kekuasaan keluarga Mahendra, dan kontrak profesional di depan mata dari Manchester United. Namun, bagi Zeevan, Inggris adalah penjara emas yang dingin. Ia memilih pulang ke Jakarta, melarikan diri dari ekspektasi dunia untuk menjadi "robot" sepak bola. Di Grand Archon Academy, ia berharap bisa menjadi orang biasa. Tapi seorang Zeevan tidak akan pernah bisa bersembunyi. Ia justru terjebak di antara: Geng Elit Archon: Sahabat-sahabat gila yang mengajarinya bahwa hidup bukan cuma soal mencetak gol. Christy: Kembaran yang menyimpan trauma mendalam karena pernah ditinggalkan sendirian. Delynn Maheswari: Sang "Ibu Negara" Archon yang dingin, kaku, dan membenci segala hal yang berantakan-termasuk kehadiran Zeevan yang merusak tatanan sekolah. Saat Zeevan mulai menemukan kebahagiaan di balik seragam sekolahnya, sebuah telepon dari Inggris kembali berdering. Manchester United datang dengan tawaran yang tak mungkin ditolak oleh atlet mana pun di planet ini. Pilihannya hanya satu: Kembali ke puncak dunia di Inggris dan menjadi legenda yang kesepian, atau melepaskan mimpi masa kecilnya demi cinta dan rumah yang baru saja ia temukan di Jakarta? "Gue udah pernah ngerasain rasanya sendirian di puncak dunia. Dan ternyata, gue lebih suka di sini... karena ada lo." Ikuti perjalanan Zeevan menentukan di mana kakinya harus berpijak. Karena kadang, kemenangan terbesar bukan saat kita mengangkat piala, tapi saat kita tahu ke mana harus pulang.

More details
WpActionLinkContent Guidelines