My Time & Your Time

My Time & Your Time

  • WpView
    Membaca 1,564
  • WpVote
    Vote 93
  • WpPart
    Bab 4
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sel, Jun 2, 2015
WpInfo
Fiksi Penggemar
"Sampai kapan Prill? kamu gak merasa risih apa?" Pertanyaan semacam itu sudah 100 kali lebih dilontarkan dengan mudahnya kepada Prilly. Prilly tersenyum lembut seraya mengelus puncak kepala yang dingin dan basah milik seseorang yang terbaring lemah didepannya ini. Ia masih saja tak membuka kedua mata indahnya. "Kau tau Randy? Dia hanya kelelahan. Sebaiknya kau jangan berisik. Karena itu hanya membuatnya terganggu" ujar Prilly dengan suara serak ingin menangis. "Kau tau Prilly?" Randy mendudukkan dirinya disebelah Prilly. " Apa?" Tanya Prilly mengalihkan matanya menatap Randy. "Sudah 3 Tahun kau melakukannya". Apa yang membuat Prilly melakukannya? mengapa ia mau melakukannya walau 3 tahun lamanya?. . . . . Your Time & My Time
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
#36
randymartin
WpChevronRight
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • Dia Bahagiaku
  • Stay (Away)
  • Seputih Melati
  • CINTA KITA
  • I Don't Understand
  • You Broke My Heart*editing*
  • Inginku Memilikimu
  • Bad Love

Prilly merebahkan dirinya di kasur yang sudah sepuluh tahun ia tinggalkan ke Amerika. Dia rindu bermain dengan Alan. Tetangga samping rumahnya yang dulu sering bermain dengan dia. Tapi, yang sebenarnya Prilly rindukan adalah kembaran Alan. Dari kecil, ia tidak pernah mau diajak main bersama. Sampai terakhir, dia ingin mengatakan iya menerima tawaran Prilly tapi dia urungkan karena tiba-tiba Alan datang. "Pril, ayo ke rumah Om Marafa."panggil Airi, bunda Prilly. "Wahh... Prilly makin cantik aja."Nura, mama Alan berkata ketika keluarga Prilly sampai di rumahnya. "Makasih tan."Prilly. "Prilly??"Alan berlari memeluk Prilly. "Hai Lan?" "Lho, anak kamu yang satunya mana?"Tanya Izama, ayah Prilly. "Dia jadi berandalan Za. Dia nggak pernah dengerin aku lagi."Marafa. Izama hanya mengangguk. Dia tahu, sebenarnya Rafa yang tidak pernah mendengarkan si kembar yang satu lagi. Memang benar, Prilly dekat dengan Alan tapi dia dekat dengan si kembar satunya. Anak itu sering menangis dipelukannya dan cerita kalau ayah dan bundanya selalu pilih kasih. Dia tidak sepintar Alan, dia tidak pernah bisa dibanggakan karena nakal dan selalu bikin ulah. Tapi Izama lebih menyukainya, karena dia memiliki skill beladiri yang tinggi, pendengaran dan penglihatannya sangat sensitive, Izama berencana menjadikan dia penerusnya di bidang sniper dalam satuan KOPASSUS. "Ali, kamu darimana?"Rafa mulai emosi. "Sekolah, Ali kan pakai seragam, ohh... atau ayah nggak pernah merhatiin Ali, basi."Ali hanya berdiri diam, tidak menoleh sama sekali. "Kok bajunya kotor gitu Li? Kamu berantem lagi?" "Apa peduli bunda sih? Anak kesayangan bunda Alan kan? Ali nomor terakhir, cuma sampah yang seharusnya dibuang."Ali berjalan ke kamarnya. Ini cerita pertamaku, tolong dibaca ya? kalau suka silahkan di vote, kalau ada kekurangan silahkan di coment, terimakasih semua.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan