Break My Heart

Break My Heart

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Mon, Oct 27, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Dia adalah laluna Samita. Namanya berarti Bulan yang tenang , namun hari-harinya diselimuti hujan meteor yang tak kunjung usai. Di mata dunia, ia adalah ratu yang mendampingi sang raja; suaminya adalah cetak biru dari semua mimpi yang pernah ia rajut di masa gadis. "Suami Idaman," begitu bisik orang-orang. Sebuah ukiran emas palsu di atas batu karang yang rapuh. Tahukah mereka bahwa intan itu hanyalah kaca yang berkilauan? Di balik pintu kayu mahoni, pangerannya berubah menjadi teka-teki gelap. Sosok yang ia puja ternyata berkepala dua: satu wajah menatapnya dengan janji, wajah yang lain berpaling mencari cahaya lain-cahaya yang dibelinya dengan keringat dan tetesan dana dari tangan laluna sendiri. Ia adalah Pilar dan Bank Sentral bagi laki-laki yang kini hatinya berlabuh di dermaga asing. Uang yang ia hasilkan dengan susah payah justru menjadi jembatan bagi suaminya menuju pelukan wanita lain. Ini bukan hanya pengkhianatan cinta, tapi juga pengkhianatan finansial yang mencekik. Setiap malam, ia berdiri di persimpangan yang sunyi. Di sisi kiri ada jalan 'Keimanan' yang mengajarkan kesabaran tak bertepi dan janji pahala dalam derita. Di sisi kanan ada jalan 'Norma' yang berbisik tentang harga diri, keadilan, dan sebuah pisau bernama perpisahan. Laluna memilih untuk tidak bergerak. Ia memilih berdiri tegak di tengah persimpangan itu, membiarkan kedua jalan mematung di kakinya. Mengapa? Di balik punggungnya, ada dua pasang mata kecil yang melihatnya sebagai Benteng Terakhir. Demi dua nyawa yang tak bersalah, ia menggenggam pecahan hatinya, menjadikannya kerikil tajam yang dilemparkan ke depan untuk membersihkan jalannya. Ia tidak pergi, dan ia tidak menyerah. Ia memilih menjadi pelabuhan badai. Pertanyaannya: Apakah Laluna adalah seorang martir yang agung, ataukah ia adalah teka-teki bodoh yang lupa bahwa kunci kebahagiaan ada di tangannya sendiri? Dan sampai kapan ia harus menjadi Bulan, cahaya malam yang tak pernah diizinkan melihat mentari pagi?
All Rights Reserved
#112
divorce
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Nakula
  • Salah Status [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines