Di antara perbukitan yang menyimpan usia dalam setiap tonggak anggur, nama Rosso telah lama menjadi bagian dari kejayaan wine Italia. Selama beberapa generasi, kekayaan dan pengaruh mereka tumbuh bersama kebun-kebun anggur yang tak pernah berhenti menghasilkan emas dalam bentuk cair. Bahkan hingga hari ini, Rosso masih berdiri di puncak. Sebuah dinasti yang tidak sekadar menjual wine, tetapi memiliki cerita panjang di baliknya. Namun, sejarah memiliki cara sendiri untuk kembali menagih sesuatu yang pernah dirampas. Ketika Rosso mulai memperluas kerajaan mereka menuju Prancis, luka lama dari perang perdagangan wine pada tahun 1970-an kembali terbuka. Pasar yang dahulu pernah dipisahkan oleh ambisi dua negeri kembali menjadi papan permainan.
Tetapi di antara gejolak politik yang mulai meluap dari nama-nama yang duduk di meja itu, nama Morchetti tidak pernah benar-benar berada di pihak manapun. Sebagai dinasti investasi, mereka memiliki kepentingan yang terlalu besar untuk tunduk pada satu keluarga. Hingga, putri keluarga Rosso bertemu dengan putra sulung pewaris keluarga Morchetti. Dua nama dinasti Italia yang dicatat tidak pernah benar-benar saling menghormati, Rosso dan Morchetti dapat berbagi meja, bertukar kesepakatan, bahkan mengangkat gelas yang sama. Hanya saja, tidak pernah dengan rasa saling percaya.
Mereka tidak ditakdirkan menjadi Romeo dan Juliet meski berdiri di tanah yang sama. Vitton tidak datang untuk menyelamatkan Enora. Apa yang Vitton sebut sebagai cinta tidak pernah benar-benar menjadi cinta. Itu adalah obsesi yang sakit. Keinginan untuk memiliki seseorang sampai batas antara mencintai dan menguasai menjadi tidak lagi jelas.
Sementara keluarga Rosso kembali mempertaruhkan kekuasaan mereka di tanah Prancis, Enora mendapati bahwa permainan terbesar dalam hidupnya mungkin bukanlah perang dagang yang diwariskan keluarganya. Melainkan seorang pria yang duduk di sisi meja yang sama dengannya tapi tidak pernah benar-benar berada di pihaknya.
All Rights Reserved