Di tengah hingar-bingar gemerlap malam, seorang gadis muda termenung menatap lelaki di depannya - Anamta namanya. Tubuhnya tegap memanggul ransel dan kamera, rambut gondrong sebahu, mata hijau bagai batu zamrud yang menyala tenang. Hidungnya mancung bak seluncur halus, wajahnya terpahat sempurna - manis sekaligus tegas, seperti rahasia yang belum selesai diungkapkan.
Anamta datang ke salah satu wisma di Gang Dolly, tempat Abuy bekerja dan menetap. Awalnya, Abuy mengira pria itu hanya pelanggan yang mencari teman tidur. Namun siapa sangka, kalimat pertama yang keluar justru,
"Permisi, apakah di sini ada kamar untuk disewa?"
Sejak malam itu, Abuy menatapnya bukan sebagai pembeli, melainkan teka-teki. Sebagai perempuan penghibur, tubuh Abuy terbiasa disentuh, tapi hatinya nyaris beku. Ia menargetkan Anamta sebagai permainan barunya - fantasi singkat yang bisa mengisi kekosongan di hatinya. Tapi takdir menertawakan niatnya.
Dalam satu bulan yang singkat, perjalanan mereka menjelma menjadi sesuatu yang tak ia rencanakan: cinta. Namun, dari situlah masalah terjadi. Abuy mulai mempertanyakan, pantaskah Ia bersanding dengan Anamta?
Dari lorong-lorong gelap rumah bordil, Abuy belajar bahwa setiap luka bisa disembuhkan, setiap dosa punya ruang untuk dimaafkan, dan setiap jiwa - betapapun kotor dan remuk - tetap berhak untuk dicintai.
Все права сохранены