Dua gadis, dua dunia.
Satu menutup mata dengan senyum, satu lagi dengan air mata.
Saat jam di dua tempat itu berdentang bersamaan, sesuatu di langit seperti retak dan takdir mereka bertukar arah.
Di kamar rumah sakit yang dipenuhi aroma obat dan cahaya sore yang menguning, Yoon Ara menatap keluarganya satu per satu.
Ayahnya yang berusaha tersenyum padahal matanya sembab, ibunya yang terus menggenggam tangannya erat, kakak dan adiknya yang menunduk diam menahan tangis.
"Jangan sedih," ucap Ara pelan, bibirnya melengkung kecil.
"Jangan anggap ini perpisahan. Suatu saat, aku akan datang ke kalian lagi. Dalam cara yang berbeda."
Tangannya melemah, tapi senyum itu tetap di sana hangat, tulus, dan menenangkan.
Di tempat lain, di rumah megah yang sunyi, seorang gadis berbaring di bathtub kamar mandi.
Suara air menetes bergema pelan, menyatu dengan isaknya.
Ia baru saja melepas kepergian satu-satunya orang yang memanggil namanya dengan kasih.
"Kalau ada hidup lain..." bisiknya, suaranya bergetar, "...aku cuma ingin dicintai."
Detik berikutnya, dunia berhenti sejenak.
Angin berhembus pelan, langit seolah pecah, dan dua jiwa yang berbeda-bersilang arah.
Karina terbangun menjadi ibu protagonis dan antagonis sekaligus.
Untungnya, ia terbangun di tubuh wanita muda nan kaya-raya dan sebelum alur novel dimulai, yaitu pada saat protagonis berusia 5 tahun.