Behind The Scene

Behind The Scene

  • WpView
    Reads 16
  • WpVote
    Votes 3
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 30, 2025
Nona Rosalba Anggraini adalah gadis yang baru lulus SMA dan bekerja sebagai tim artistik sebuah klub teater. Tiga tahun terakhir dirinya menyandang julukan "mbak-mbak PDD sekolah" di SMA Krisokola, kini ia menekuni satu dari dua bidang yang ia jalani dulu. Nona memilih fokus ke kanvas digital sebagai desainer poster dan pernak-pernik promosi di teater Soang dibandingkan fokus ke lensa kamera. Dunia kerja yang orang-orangnya ia bayangkan tidak bisa diajak bercanda ternyata salah. Nona bahkan akrab dengan sutradaranya, apalagi saat di luar jam kerja. Ia mulai membentuk dirinya versi dewasa di era memasuki dunia kerja. Menjadi crew yang tergolong dalam deretan tim paling muda. Kepribadian Nona yang berpikir superpositif mulai menemukan jalan yang asing bagi diri Nona sendiri. Ia tersesat dalam menemukan jati diri barunya, tetapi proses eksplorasi tidak ia hentikan begitu saja. Sayangnya, penunjuk arah yang menemaninya telah mempermainkan Nona tanpa tahu cara menyelesaikannya. Akankah Nona berhasil keluar dari sesatnya? . . . Dipublikasikan sebagai prompt wajib komunitas. Sampul dari pinterest. Masih ada sedikit kaitannya dengan prompt pertama berjudul "The Show". Tema prompt: mawar, salju, matahari. Genre: romansa.
All Rights Reserved
#5
freshgraduate
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • GRAVARENZO
  • EVANESCENT
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines