My Posesive Boyfriend

My Posesive Boyfriend

  • WpView
    Reads 3,702
  • WpVote
    Votes 302
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, May 27, 2026
"Ngapain pake baju kurang bahan gitu?"- Boruto Namikaze. "Duit dari gue kurang sampai pake baju gitu, mau cari cowok lain?" Plak. "Gue gak suka lo pake baju kurang bahan, kalau mau pake di depan gue, telanjang sekalian juga gak papa." "Gila!"-Sarada Uchiha Rate:M ... Note: 1. Karakter milik Masashi Kishimoto 2. Alur tidak sesuai anime atau manga 3. Update gak nentu 4. Jangan plagiat 5. Alur murni ide sendiri 6. Gambar diambil dari pinterest
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • The Last Yes!
  • 21+ BorutoXSarada Fanfiction (Kumpulan ff BoruSara buku-3)
  • Serena's song
  • Nala dan Mas Juragan
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • 21+ BorutoXSarada Fanfiction (Buku ke-2)
  • 𝐌𝐲 𝐅𝐢𝐫𝐬𝐭 𝐑𝐢𝐯𝐚𝐥, 𝐌𝐲 𝐅𝐢𝐫𝐬𝐭 𝐋𝐨𝐯𝐞!
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • I'll Be Waiting For You || Uzumaki Boruto x Uchiha Sarada
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • Ferocious (BoruSara)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • OBSESSION (Borusara)
  • My Lady Voice [Boruto x Sarada]
  • Borusara Oneshoot🥗🔩
  • KISS ME || BORUSARA 18+

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines