Dia Arinda

Dia Arinda

  • WpView
    Reads 70
  • WpVote
    Votes 12
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadMatureComplete Thu, Jun 11, 2026
Arinda Rafkha Fadila, seseorang yang baru beberapa hari putus dengan kekasihnya di pertemukan tidak sengaja dengan Maureeta Annara, gadis jutek, ceria,punya banyak hobi dan penulis yang mengubah warna hidupnya. Cinta mereka perlahan tumbuh kala keduanya mulai mencoba membuka hati masing-masing. Mereka tertawa, berjuang, dan sama-sama merasakan sakit dari masalalunya. Ini sebuah kisah tentang perjalanan cinta mereka, cinta yang tidak berhenti di akhir, namun justru menemukan maknanya di titik akhir. Akankah keduanya bisa mencapai puncak ending yang menyenangkan? Ikuti setiap alur yang ada di chapter itu... Semoga kalian suka.. 27okt25
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Chasing Sanara
  • The Last Yes!
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • De Andere Weg (END)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines