Surat-Surat yang Tak Pernah Terkirim

Surat-Surat yang Tak Pernah Terkirim

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 3
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 4, 2025
Arka adalah arsitek yang hanya berani membangun mimpi di atas kertas. Di dalam kotak kayu mahoni miliknya, tersimpan puluhan surat pengakuan cinta yang ditujukan pada Maya, sahabatnya sejak remaja. Surat surat itu tak pernah terkirim, menjadi saksi bisu betapa dalamnya ia mencintai tanpa pernah berani memiliki. Maya, sang pustakawan ceria, memilih Dhimas, jurnalis yang hangat dan nyata, untuk menjadi masa depannya. Pernikahan mereka momen bahagia yang seharusnya menjadi akhir justru membuka kembali luka lama dan keraguan yang selama ini dipendam. Di tengah dilema itu, hadir Laras, desainer grafis yang tulus. Ia menjadi satu-satunya orang yang tahu beban hati Arka, dan diam-diam, ia berharap Arka menemukan keberanian untuk meninggalkannya, demi menemukan cinta yang pantas ia dapatkan. "Surat-Surat yang Tak Pernah Terkirim" adalah kisah tentang batas tipis antara persahabatan dan cinta, tentang pengorbanan terberat melepaskan kebahagiaan orang yang kita cintai dan tentang keberanian untuk membuang masa lalu agar ruang untuk awal yang baru dapat tercipta. Ini adalah novel yang membuktikan bahwa cinta sejati tidak selalu berarti kepemilikan, melainkan keikhlasan.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Salah Status
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines