warna terakhir di kanvas

warna terakhir di kanvas

  • WpView
    Reads 9
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Oct 30, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Rayan tumbuh dengan dua hal yang ia cintai, melukis dan Allura gadis kecil yang sangat lembut. Namun ketika Rayan tahu Allura mengidap Idiopathic Pulmonary Fibrosis, sebuah penyakit langka yang perlahan membuat paru-parunya berhenti bekerja, hidupnya berubah total. Ia menyimpan kuasnya, meninggalkan mimpi sebagai pelukis, dan memilih jalan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Menjadi dokter, demi satu alasan sederhana menyelamatkan gadis yang membuat dunia terasa berwarna. Tapi hidup tak semudah itu. Ketika akhirnya ia berhasil menjadi dokter, Allura sudah pergi... meninggalkan ruang penuh lukisan dan gambar setengah jadi. Satu pesan di catatan kecil terjatuh. "Jangan salahkan dirimu, Ray. Aku bahagia pernah jadi warna di hidupmu. hiduplah dengan kebahagiaan, ikuti hatimu" Kini, Rayan kembali menatap kanvas kosong karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia berani menorehkan warna terakhir untuk cinta yang tak sempat ia sembuhkan. "Rayan, aku mencintaimu. Bahkan jika aku tak bisa mendapatkan cintamu, tolong beri aku kesempatan untuk bersamamu dalam waktu 312 hari. Ha-haanya 312 hari, kumohon. Ini yang terakhir, aku janji" "aku akan tetapi mencintaimu sampai suatu hari nanti aku lelah, bagiku lebih baik mencoba lalu patah dibandingkan kupendam terus menerus. lalu, tumbuh jadi sebuah penyesalan" gumam Calista
All Rights Reserved
#54
heartwarming
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Kembang Desa
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status [END]

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines