Kekalahan bukan hal asing untuk Adel. Ia sudah terbiasa menunduk dalam diam, menelan kata yang tidak jadi diucapkan, dan berpura-pura baik-baik saja ketika sebenarnya dunia di dalam dadanya sedang runtuh tanpa suara.
Lalu... suatu hari, tanpa ia minta, hadir sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan-seperti bunga abadi yang tiba-tiba tumbuh di tengah musim paling kering dalam hidupnya.
Sederhana, hangat, dan nyata.
Seseorang, atau mungkin suatu rasa, yang membuatnya percaya bahwa hidup tidak sepenuhnya gelap. Bahwa ia masih mampu tertawa, tersenyum tanpa pura-pura, dan merasa dilihat-benar-benar dilihat-bukan sekadar dilewati.
Bunga itu indah.
Tapi seperti segalanya yang indah di hidup Adel, ia tidak tinggal lama.
Bukan hilang-hanya pergi pelan.
Meninggalkan jejak, bukan bentuk.
Dan ketika semua kembali sunyi, luka itu masih ada. Ketakutan itu masih mengintai. Kekalahan masih terasa sama.
Namun kini Adel mengerti sesuatu yang dulu tidak ia tahu:
Bahwa meskipun hidup sering terasa seperti luka yang tidak mungkin pulih, ia juga pernah-walau sebentar-ditumbuhi sesuatu yang indah.
🕊🕊🕊