Di sudut-sudut kota Bekasi yang panas dan penuh suara, ada lelaki-lelaki yang berjalan tanpa arah.
Bukan karena mereka kehilangan cinta - tapi karena mereka pernah mencintai terlalu dalam sampai tak tahu lagi bagaimana caranya berhenti.
Mereka duduk di warung kopi, menatap cangkir dingin yang tak lagi beruap, menunggu seseorang yang tak akan datang.
Mereka menulis pesan yang tak pernah terkirim, berbicara dengan bayangan di kursi kosong, dan diam terlalu lama di antara dua kata: "masih" dan "sudah."
Dalam sepuluh kisah pendek yang melankolis dan jujur ini, Aldipaicong menulis tentang sunyi, kehilangan, dan kesepian dengan bahasa sehari-hari yang terasa seperti obrolan larut malam-jujur, getir, tapi indah.
Kisah-kisahnya bukan tentang cinta yang ditemukan, tapi tentang cinta yang dibiarkan pergi, dan lelaki-lelaki yang belajar hidup tanpanya.
"Tidak semua kehilangan butuh ditemukan.
Beberapa hanya perlu diterima - dan diseduh lagi, seperti kopi yang sudah dingin."
All Rights Reserved