Aldo Pradipta Nagara, 16 tahun, anak bungsu dari empat bersaudara laki-laki, tapi rasanya seperti tak pernah benar-benar menjadi bagian dari mereka.
Sejak kecil, ia belajar diam. Nilainya bagus, sikapnya baik, tapi tak pernah cukup untuk membuat siapa pun menoleh. Rumah itu penuh tawa, tapi tidak pernah untuknya.
Hingga suatu sore, orang tuanya pulang membawa seorang anak laki-laki seumuran dengannya. "Anggap saja adik baru," kata mereka dengan senyum yang hangat, senyum yang belum pernah ia terima dengan cara yang sama.
Sejak hari itu, ruang tamu terasa lebih terang, meja makan lebih ramai, dan pelukan yang dulu ia tunggu kini mendarat di bahu orang lain.
Aldo hanya tersenyum, menunduk, lalu berkata pelan, "Selamat datang."
Dan di dalam dadanya, sesuatu perlahan retak-tanpa suara, tapi menyakitkan.
All Rights Reserved