Aku selalu bingung dengan kata pulang.
Bagi orang lain, pulang itu sederhana:
mengetuk pintu, disambut tawa, lalu masuk tanpa rasa takut.
Mereka punya tempat kembali,
punya dada untuk bersandar,
punya tangan yang tahu cara memeluk.
Aku tidak.
Aku tumbuh dengan keheningan yang panjang,
kursi makan yang selalu kurang satu orang,
dan suara pintu yang menutup tanpa pamit.
Kadang aku duduk di halte dekat sekolah,
melihat anak-anak lain dijemput orang tua mereka.
Ada yang digandeng, ada yang dielus kepalanya,
ada yang dipeluk seolah dunia tidak pernah menyakiti mereka.
Aku menunduk, bukan karena sedih,
tapi... karena aku iri.
Sangat iri.
Orang bilang aku kuat.
Padahal aku hanya terbiasa sendiri.
Terbiasa menata piring makan sendiri,
terbiasa menenangkan diri sendiri,
terbiasa menunggu seseorang
yang mungkin memang tidak akan pernah datang.
Mereka bilang, pulang tak melulu tentang rumah.
Kadang pulang adalah kembali pada seseorang yang kita percaya.
Aku tidak punya itu.
Belum.
Tapi kalau suatu hari aku bertemu seseorang
yang melihatku bukan sebagai beban,
bukan sebagai anak yang harus kuat,
bukan bayangan yang harus menyesuaikan.
Kalau suatu hari ada yang menatapku dan berkata,
"Kamu nggak harus tegar di sini."