Phantom Admirer
Dalam lipatan kehidupan yang penuh misteri-di antara halaman robek yang tak sempat dibaca siapa pun-Asmaraloka Wungu Cantrika lahir dari abu pengabaian. Namanya bukan sekadar panggilan, melainkan epitaf bagi cinta yang menolak mati, meski tak pernah dirayakan.
Seperti kuntum bunga yang lembut, suaranya dipelihara oleh tangan-tangan kasih Satria Adiwarna dan istrinya, Komang, hingga mekar menjadi penyanyi keroncong klasik yang memikat hati. Tiap petikan dawai yang ia mainkan adalah doa yang dulu tak sempat ia panjatkan; tiap cengkoknya adalah tangis yang ia ubah jadi nada. Jantungnya berdetak mengikuti irama mimpi-mimpi yang terlupakan-mimpi yang ia kubur sendiri, karena terlalu perih untuk diingat, terlalu indah untuk dilepas.
Dan kemudian, di Kota Impian, London-kota yang terlalu dingin untuk rindu, terlalu tua untuk keajaiban-guratan takdir mempertemukan kembali dirinya dengan sang pujaan hati semasa SMA: Andika Mahisa Mahawarsanga Jayaprana.
Pertemuan tak terduga yang membangkitkan api cinta pertama. Api yang ia kira padam, ternyata hanya tidur di bawah abu luka. Kini menyala lagi, membakar rusuk yang sama, dengan perih yang sama. Mengingatkannya bahwa kadang-kadang, hati mengingat apa yang dilupakan pikiran. Bahwa ada nama yang tak perlu dihafal, karena ia sudah lebih dulu ditato di nadi.
Sebab ada cinta yang tak butuh rumah untuk pulang. Cukup satu tatap, maka seluruh jarak runtuh. Dan ada pula cinta yang datangnya seperti London di musim gugur: indah, tapi menyuruhmu melepaskan segala yang menguning.
Romance Comedy, ranahasmoro
©2025