rumah yang tak berbentuk rumah

rumah yang tak berbentuk rumah

  • WpView
    Reads 59
  • WpVote
    Votes 34
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Nov 4, 2025
Rumah yang Tak berbentuk rumah Aku anak yang tumbuh di tempat yang mereka sering sebut itu rumah, tetapi tak pernah merasa seperti itu. Dindingnya terasa dingin, suaranya sangat keras dan setiap langkah di dalam nya terasa seperti ada yang berjalan di atas pecahan kaca. Papaku tak pernah bicara tanpa teriakan, mamaku tak pernah menatap tanpa air mata. Dan aku.... sudah terbiasa menjadi diam. Diam karena kalau aku berbicara,aku selalu dianggap salah. Setiap malam aku menutup telinga,berharap suara pintu dibanting, berharap semuanya bisa tenang walaupun itu cuma sebentar. Tapi pagi selalu datang dengan pertengkaran baru, dan aku kembali memainkan peran anak yang baik anak yang pura-pura tidak hancur. Mereka bilang rumah adalah tempat pulang, tapi bagiku rumah hanyalah tempat aku belajar bagaimana rasanya takut, Karena rumah bagiku.....Rumah yang tak berbentuk rumah. Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai berhenti berharap rumah ini berubah. Mungkin sejak melihat buna yang mulai kelihatan matanya bengkak, atau sejak papah marah-marah tapi ini pertama kali aku melihat papah marah. Sejak itu aku berpikir rumah itu bukan berbentuk bangunan saja tetapi rumah itu bisa jadi orang yang kita sayang. Aku tumbuh tanpa tahu bagaimana rasanya di peluk atau di panggil sayang tanpa adanya nada rasa marah. Setiap kali aku aku bercermin, aku melihat anak yang bahkan dirinya tak yakin untuk mendapatkan kasih sayang orang tua.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • I'm Not Just a Figuran
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora
  • Tsundere Maniak Susu
  • GHAIKA (REVISI)
  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines