LUKA ALASKA

LUKA ALASKA

  • WpView
    Membaca 45
  • WpVote
    Vote 2
  • WpPart
    Bab 2
WpMetadataReadBersambung
WpMetadataNoticePublikasi terakhir Sab, Mei 9, 2026
Luka itu terkadang tercipta dari seseorang yang kita anggap paling dekat, yang selalu kita anggap segalanya, dan seseorang yang kita anggap dunia kita. Bukan karena apa, tapi Tuhan tidak akan pernah menciptakan sebuah luka jika tidak ada alasannya, segala sesuatu yang telah ditakdirkan untuk kita nyatanya adalah jalan yang terbaik untuk kita, entah meskipun takdir yang kita terima akan berujung duka ataupun bahagia nantinya.
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Bergabunglah dengan komunitas bercerita terbesarDapatkan rekomendasi cerita yang dipersonalisasi, simpan cerita favoritmu ke perpustakaan, dan berikan komentar serta vote untuk membangun komunitasmu.
Illustration

anda mungkin juga menyukai

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain's Mother
  • The Last Yes!
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

Detail lengkap
WpActionLinkPanduan Muatan