Kadang hidup mempertemukan dua orang bukan untuk saling memiliki, tapi untuk saling belajar tentang kehilangan, tentang memaafkan, dan tentang bagaimana rasanya tumbuh tanpa harus saling bergantung. Begitu juga dengan Meira dan Arland. Dua orang yang pernah begitu dekat, tapi tak pernah benar-benar bersatu.
Dulu mereka seperti api dan air,selalu berdebat, saling sindir, tapi juga tak bisa benar-benar menjauh. Entah bagaimana, di antara canda, tawa, dan pertengkaran kecil, mereka saling memahami tanpa harus berkata banyak. Meira selalu berpikir Arland adalah sosok yang paling menyebalkan yang pernah ia kenal. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang hangat dan sesuatu yang sulit dijelaskan bahkan oleh dirinya sendiri.
Namun waktu berjalan, dan segalanya berubah. Kesalahpahaman kecil berkembang jadi dinding besar di antara mereka. Satu per satu hal yang dulu terasa biasa mulai terasa asing. Meira berhenti mencari, Arland berhenti mencoba. Dan pada akhirnya, mereka berhenti menjadi "kita."
Tahun-tahun berlalu, tapi bayangan masa lalu itu tetap menempel di kepala Meira. Kadang muncul lewat kenangan kecil, lewat tempat yang dulu mereka lewati bersama, atau sekadar lewat nama yang tak sengaja disebut orang lain. Ia tak lagi marah, hanya... menyesal. Karena banyak hal yang dulu tak sempat ia katakan-dan mungkin tak akan pernah.
Kini, hubungan mereka bukan lagi tentang perasaan yang tak terucap, tapi tentang dua orang yang akhirnya memilih untuk berdamai. Meira dan Arland sudah belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir dengan cinta. Kadang hubungan terbaik justru yang tidak pernah menjadi apa-apa.
Karena tidak semua yang hilang harus dicari kembali, dan tidak semua yang berakhir berarti benar-benar selesai.
All Rights Reserved