Berdua di Balik Lensa

Berdua di Balik Lensa

  • WpView
    Reads 4,356
  • WpVote
    Votes 619
  • WpPart
    Parts 17
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Dec 13, 2025
Matahari sore jatuh pelan di antara pepohonan kampus. Suara riuh mahasiswa bergulir seperti latar musik yang tak pernah berhenti. Di tengah hiruk pikuk itu, kamera Aleya menangkap hal-hal kecil yang mungkin terlewat oleh orang lain: kucing tidur di bawah bangku, daun jatuh di atas buku catatan, tawa teman di dekat gerbang. Baginya, dunia selalu punya cerita. Dan ia senang menjadi penonton-diam, memperhatikan, lalu mengabadikan. Namun sore itu, lensa kameranya berhenti pada satu sosok. Seorang laki-laki duduk sendirian di bangku taman. Buku terbuka di pangkuannya, tangan menggenggam gelas teh hangat, mata teduh menyimak baris kata seakan dunia hanya miliknya. Ia bernama Elvan. Tanpa sadar, Aleya menahan napas. Ada keheningan yang indah di sekitar sosok itu-tenang, lembut, tak banyak tuntutan. Tangannya bergerak refleks, klik, memotret. Sebuah gambar tercipta. Sebuah cerita diam-diam dimulai. Yang Aleya belum tahu adalah- foto itu akan menyatukan mereka. Lewat permintaan maaf, tatap malu, jarak yang perlahan mengecil, dan rasa yang tumbuh tanpa suara. Di balik lensa, dua hati bertemu. Dan dunia berputar sedikit lebih pelan karenanya.
All Rights Reserved
#28
elputrasarira
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • I'm Not Just a Figuran
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • Transmigrasi Ziora
  • EVANESCENT
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines