Dari luar, ia tampak seperti sinar matahari - selalu ceria, murah senyum, dan tak pernah lupa menebar kebaikan pada siapa pun. Suaranya lembut, tawanya tulus, seolah tak ada luka sedikit pun di balik matanya yang berbinar. Namun, siapa sangka di balik senyum itu tersimpan rahasia yang tak seorang pun tahu - luka yang tak terlihat, tapi membekas dalam.
Setiap senyum yang ia tunjukkan adalah tameng untuk menutupi kepedihan yang tumbuh dari rumahnya sendiri. Di tempat seharusnya kasih sayang bersemi, ia justru belajar bertahan dari kerasnya kata-kata dan dinginnya perlakuan orang tuanya. Ia tidak tahu bagaimana rasanya dipeluk dengan hangat, tapi ia tahu persis bagaimana menenangkan hati orang lain yang terluka.
Ia adalah sosok yang menyembunyikan tangisnya di balik tawa - kuat, tapi rapuh. Ceritanya bukan hanya tentang luka, tapi juga tentang bagaimana seseorang bisa tetap bersinar meski hidup berulang kali berusaha memadamkannya.
Dewandra telah memantapkan hati untuk tidak pernah menikah. Selama 25 tahun, ia mengabdikan hidup sebagai tentara setia demi melindungi negara. Hingga di usia 41 tahun, ia diangkat menjadi pemimpin tertinggi-menyandang status RI 1.
Dua tahun menjabat pasca-lengsernya sang ayah yang merupakan Presiden ke-8, Dewandra tetap tak sedikit pun terusik oleh bayangan pernikahan. Namun, takdir rupanya punya rencana lain.
Pada perayaan Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2025, matanya tak sengaja menangkap sosok gadis berkebaya putih dengan kain batik merah. Rambutnya tergerai indah, dihiasi senyum manis yang menawan. Meski hanya tatapan sekilas, wajah itu seolah tertanam permanen dalam ingatannya.
Gadis itu adalah Natasha Aira Van-dijk Chandramukhti-putri tunggal dari salah satu menteri di kabinetnya sendiri.