🕌 Gelisah di Pelukan Takdir
Oleh: aurazahh
Nisa (18 tahun), mahasiswi baru Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, tak pernah menyangka hatinya akan terpaut pada Farid (26 tahun), seorang calon sarjana Aqidah Filsafat di Al-Azhar, Kairo. Kisah mereka bersemi dari sapaan Instagram, tumbuh melalui ribuan jam video call, dan teruji oleh perbedaan lima jam waktu antara Blora dan Mesir.
Hubungan jarak jauh ini bukan hanya tentang rindu. Farid seharusnya sudah kembali tahun lalu, namun kegagalan dalam satu ujian krusial memaksanya mengulang setahun lagi, menunda impian pernikahan yang sudah mereka rajut. Bebannya semakin bertambah karena ia juga bekerja di Warung Indonesia di sela-sela tumpukan kitab dan tekanan akademik.
"Setiap kali Farid bilang sibuk, aku tahu ia bukan hanya berhadapan dengan kitab filsafatnya. Ia juga berhadapan dengan penggorengan dan kerinduan, di bawah langit Kairo."
Di tengah kesibukan kuliah Nisa dan padatnya jadwal Farid, kegelisahan selalu mengintai. Apakah cinta yang dibangun tanpa pernah bersentuhan fisik, yang hanya terjalin lewat layar kaca, benar-benar bisa bertahan? Bagaimana jika keraguan itu bukan datang dari orang lain, melainkan dari hati mereka sendiri?
Kisah ini adalah tentang perjuangan sepasang kekasih untuk menyatukan keyakinan dengan takdir; bagaimana Nisa dan Farid mempertahankan janji suci mereka di tengah ketidakpastian jarak, penundaan takdir, dan bisikan-bisikan cemas yang menyelinap di antara setiap video call.
Mampukah cinta mereka menemukan pelabuhan yang damai, ataukah gelisah ini akan terus bersemayam di pelukan takdir?
All Rights Reserved