Our Little Tomorrow

Our Little Tomorrow

  • WpView
    Reads 73
  • WpVote
    Votes 33
  • WpPart
    Parts 13
WpMetadataReadMatureComplete Fri, Nov 7, 2025
🌸 **Our Little Tomorrow** 🌸 Keira nggak pernah menyangka, hidup sederhana yang ia jalani akan berubah sejak pertemuannya dengan Elio - cowok pendiam yang datang di saat ia hampir menyerah pada mimpinya. Bersama Elio, Keira belajar bahwa masa depan nggak selalu tentang seberapa cepat kita berlari, tapi seberapa kuat kita bertahan. Dengan dukungan keluarganya yang hangat dan sahabat sejatinya, Tania, Keira mulai menemukan arti kecil dari "esok hari" yang selalu ia takuti. Namun, semakin dekat dengan Elio, semakin ia sadar... bahwa setiap orang membawa masa lalunya sendiri - dan terkadang, cinta juga butuh keberanian untuk menerima luka yang belum sembuh. ✨ Sebuah kisah tentang keluarga, persahabatan, dan cinta yang tumbuh pelan-pelan - karena setiap langkah kecil hari ini... bisa jadi awal dari *Our Little Tomorrow*.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Chasing Sanara
  • Almost Married (END)
  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Nala dan Mas Juragan
  • De Andere Weg (END)

🔞⚠️Note: Cerita ini 21+ ya. Isinya untuk dewasa, mohon bijak dalam membaca. ****** Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines