Setinggi Langit

Setinggi Langit

  • WpView
    Reads 3
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Nov 6, 2025
Satu hal yang perlu ditekankan bahwa dia laki-laki pertama yang aku mampu masuk dihidupku, melalui masa demi masa dengan berbagai kisah cerita yang masih aku ingat jelas hingga sekarang. Tangis dan tawa kerap kami habiskan waktu bersama, perbedaan dan persamaan yang menghiasi kami tanpa ada status apapun. Aku takut mengakui rasa itu, aku takut jika mengakui rasa itu ada, justru membuatku memupuk harapan semakin besar. Dan aku takut merasakan sakit itu. Dia selalu memberitahuku tentang banyak hal yang aku sendiri tidak mengerti. Tidak hanya ilmu pengetahuan, tapi lebih daripada itu. Hanya dia laki-laki yang bisa mengajakku berkeliling kota Yogyakarta hingga malam, hanya rumah dia yang pernah aku bersihkan bahkan kami menghabiskan waktu bersama di rumahnya. Kini aku tahu, perlahan dia akan temukan dunianya. Dunianya yang lebih luas dan indah tanpa harus ada aku. Aku bukan satu-satunya dihidupnya, banyak perempuan di sekelilingnya yang justru lebih baik daripada aku. Dia terlalu tinggi untuk aku gapai. Setidaknya cukup dengan melihat dari bawah tentang bagaimana keindahan langit yang tinggi. Ya, seperti itulah perumpamaannya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Nakula
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Prahara Lamaran [END]
  • Salah Status
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Hello Mr. Komrad (Complete)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines