Tepian, seorang content creator yang lelah dengan rutinitas Jakarta, merasa hidupnya datar, kehilangan arah, dan baru saja patah hati. Demi menenangkan pikirannya, ia memutuskan untuk menepi ke Karimun Jawa-sebuah pulau yang seolah memanggilnya entah dari mana.
Namun malam sebelum keberangkatan, Tepian bermimpi. Dalam mimpi itu, ia bertemu seorang gadis bernama Alamanda di dunia laut berwarna hijau dengan langit berkilau simbol π. Percakapan mereka hangat, begitu nyata, hingga Tepian hampir lupa bahwa itu hanya mimpi.
Keesokan harinya, setibanya di Pulau Karimun Jawa, Tepian tersentak. Alamanda benar-benar ada-dan anehnya, gadis itu mengenal namanya. Sejak saat itu, pertemuan mereka membawa serangkaian kejadian tak masuk akal: laut yang berpendar cahaya, simbol π muncul di pantai, dan mimpi yang berlanjut setiap malam.
Keduanya terjebak di antara dua dimensi-dunia nyata dan Dunia Pi, ruang di mana imajinasi manusia menjadi kenyataan. Namun, setiap mimpi yang terbuka, menuntut harga yang harus dibayar.
Di balik keindahan Dunia Pi, ada kekuatan kelam bernama Si Lirih yang lahir dari mimpi manusia yang terlupakan. Dan hanya dengan berani membayangkan, Tepian dan Alamanda bisa menemukan jalan pulang... atau tenggelam selamanya di dunia tanpa batas itu.
Layaknya sebuah simfoni yang rumit namun selaras, jiwa Bhadrika dan Tavisha mengalun indah melalui untaian kisah yang manis.
Tayangan acak di Youtube menjadi langkah awal Tavisha mengenal sosok Bhadrika. Rasa kagum, hati yang berbedar, dan senyum yang mengembang muncul begitu saja hanya karena membaca namanya, mendengar suaranya, dan melihatnya lewat gambar. Sejalan dengan itu, harapan pun tumbuh seiring dengan do'a yang dipanjatkan. Meskipun logikanya seringkali menentang. Karena sosok Bhadrika bukanlah sosok yang biasa.
Bhadrika adalah seorang laki-laki yang memiliki latar belakang keluarga, pendidikan, karir, dan relasi yang luar biasa hebat. Masyarakat bahkan menyematkan panggilan: mas-mas Jawa premium untuk sosoknya.
Gelar dan amanah yang di emban Bhadrika sejak usianya genap 24 tahun itu membuatnya perlahan mulai kehilangan sosok dirinya sebelum naik tahta. Pertemuannya dengan Tavisha di ruang kerjanya siang hari itu, obrolan singkat mereka, gestur tubuh perempuan itu, tanpa sadar menarik Bhadrika untuk jatuh ke dalam pesona perempuan itu yang mampu membuatnya meraih rasa rileks dengan mudah. Namun Bhadrika tahu, Tavisha juga tahu, jika semuanya tidak akan semudah itu.