Langit di Mata Ibu

Langit di Mata Ibu

  • WpView
    Reads 99
  • WpVote
    Votes 2
  • WpPart
    Parts 8
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Feb 22, 2026
WpInfo
Non-Fiction
Pagi selalu datang dengan aroma yang sama. wangi tumisan bawang dari dapur, berpadu dengan suara sendok yang beradu pelan di atas wajan. Dulu, itu tanda bahwa Ibu sudah lebih dulu menyapa hari, lebih dulu menyalakan kehidupan. Di matanya, setiap pagi adalah berkah, sekeping langit biru yang harus disyukuri meski kadang diselimuti awan. Aku sering melihatnya menatap langit dari jendela dapur, sambil tersenyum kecil seolah berbicara dengan sesuatu yang hanya ia pahami. "Langit tak pernah marah," katanya suatu pagi, "ia hanya menunggu kita belajar bersyukur." Saat itu aku hanya mengangguk, belum mengerti sepenuhnya arti ucapannya. Kini, setelah ia tiada, kata-kata itu bergaung pelan setiap kali aku menengadah-seakan langit yang kulihat adalah bayangan matanya sendiri. Aroma masakannya kini hanya hidup di ingatan. Tak ada lagi langkahnya yang tergesa di lantai dapur, tak ada lagi suaranya yang memanggil lembut. Tapi setiap kali cahaya pagi menyusup lewat jendela, aku merasa ia masih di sana-mengaduk kehidupan dengan sabar, menata hari-hari kami dengan cinta yang tak pernah habis. Di langit itu, aku masih bisa melihat matanya-hangat, teduh, dan seolah berkata: aku tidak pernah benar-benar pergi.
All Rights Reserved
#17
tentangibu
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Dua Langit Berbeda
  • Unexpectedly Yours
  • MOTHER
  • Stealing My Husband
  • Gila!?, Gue Jadi Kucing?!
  • GAREL ; POSESIF BROTHER
  • My Step Mom? [END] ✔️
  • BOUND WITHOUT LOVE (END)
  • ATMA FATAMORGANA

Dua anak kembar yang terpaksa terpisah sejak tangis mereka pertama kali terdengar di bumi-sang ibu membawa Saka, sang ayah membawa Kael. Satu tumbuh dalam kehangatan dan prestasi, dikelilingi senyum dan harapan. Satu lagi belajar bertahan di rumah yang keras, memeluk mimpi di dalam air, lalu kehilangannya oleh tangan yang seharusnya melindungi. Mereka hidup di dunia yang sama, bersekolah di tempat yang sama, bahkan memiliki wajah yang hampir serupa. Namun tidak pernah tahu bahwa darah yang mengalir di tubuh mereka berasal dari luka yang sama. Ini adalah kisah tentang keluarga yang retak, mimpi yang dipatahkan, dan dua saudara yang berjalan berdampingan tanpa pernah benar-benar bertemu.

More details
WpActionLinkContent Guidelines