Pagi selalu datang dengan aroma yang sama. wangi tumisan bawang dari dapur, berpadu dengan suara sendok yang beradu pelan di atas wajan. Dulu, itu tanda bahwa Ibu sudah lebih dulu menyapa hari, lebih dulu menyalakan kehidupan. Di matanya, setiap pagi adalah berkah, sekeping langit biru yang harus disyukuri meski kadang diselimuti awan.
Aku sering melihatnya menatap langit dari jendela dapur, sambil tersenyum kecil seolah berbicara dengan sesuatu yang hanya ia pahami. "Langit tak pernah marah," katanya suatu pagi, "ia hanya menunggu kita belajar bersyukur." Saat itu aku hanya mengangguk, belum mengerti sepenuhnya arti ucapannya. Kini, setelah ia tiada, kata-kata itu bergaung pelan setiap kali aku menengadah-seakan langit yang kulihat adalah bayangan matanya sendiri.
Aroma masakannya kini hanya hidup di ingatan. Tak ada lagi langkahnya yang tergesa di lantai dapur, tak ada lagi suaranya yang memanggil lembut. Tapi setiap kali cahaya pagi menyusup lewat jendela, aku merasa ia masih di sana-mengaduk kehidupan dengan sabar, menata hari-hari kami dengan cinta yang tak pernah habis. Di langit itu, aku masih bisa melihat matanya-hangat, teduh, dan seolah berkata: aku tidak pernah benar-benar pergi.
All Rights Reserved