⚠️ HARGAI KARYA PENULIS ⚠️
Darah segar menetes tanpa permisi, merembes di antara jemari Arthur saat bilah pisau itu menancap telak di dada Valya. Namun, tak ada jeritan kesakitan. Valya justru mendongak, menatap pria di hadapannya dengan seulas senyum kemenangan yang ganjil. Matanya yang meredup penuh dengan sisa tawa, seolah-olah kematian ini bukanlah kekalahannya, melainkan puncak dari kemenangan nya .
Di tengah sunyinya ruangan yang kini pekat dengan bau amis logam, Lucas, Kalvin, dan Nathan memalingkan wajah. Mereka tak sanggup menyaksikan pemandangan itu. Valya, gadis yang dahulu selalu mereka balut lukanya dengan kasih sayang, kini justru sekarat karena luka paling dahsyat. Sebuah luka yang tidak hanya merenggut nyawanya, tapi juga menghancurkan sisa-sisa kemanusiaan mereka.
Saat napas terakhir Valya berhembus, bersatu dengan dinginnya malam yang membelenggu, sebuah tawa menjijikkan tiba-tiba memecah keheningan.
"Selamat, Arthur..." Pria tua itu tertawa, suara seraknya terdengar begitu memuakkan. "Anda baru saja memenangkan gelar pria paling bodoh di dunia... karena telah membunuh wanitamu sendiri."
Dunia Arthur seakan runtuh seketika. Genggamannya pada gagang pisau melemah. Ia terdiam mematung, menatap tangan yang kini bersimbah darah orang yang ia cintai. Pertanyaan demi pertanyaan menghujam otaknya. Kenapa ayahnya berkata seperti itu? Apakah dia salah sasaran? Benarkah wanita yang ia anggap iblis ini adalah korban yang sebenarnya?
Di bawah temaram lampu, Arthur baru menyadari bahwa dia bukan pahlawan. Dia hanyalah bidak catur yang baru saja menghabisi ratunya sendiri atas perintah sang iblis yang ia panggil "Ayah".
◉ 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮 𝗶𝗻𝗶 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗹𝗮𝗵 𝗳𝗶𝗸𝘀𝗶
◉ 𝗱𝗶 𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗷𝗶𝗯𝗹𝗮𝗸
◉ 𝗱𝗶 𝗹𝗮𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗺𝗲𝗺𝗽𝗿𝗼𝗺𝗼𝘀𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗰𝗲𝗿𝗶𝘁𝗮
𝗹𝗮𝗶𝗻 𝗱𝗶 𝘀𝗶𝗻𝗶
~
Creative Commons (CC) Attribution