KELAS SUNAT : VII - IX C

KELAS SUNAT : VII - IX C

  • WpView
    Reads 1,042
  • WpVote
    Votes 18
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sat, Nov 8, 2025
⚠️ NSFW ALERT ⚠️ Di SMP Tunas Bangsa, sunat adalah lebih dari sekadar ritual agama atau kesehatan; ia adalah mata uang sosial, alat dominasi, dan sumber teror yang bisu. Raka si penasaran yang ingin diakui, Zaki si penakut yang diliputi kecemasan dan Danu, si logis yang memilih jalan pintas medis, adalah tiga sahabat yang terperangkap dalam hierarki sekolah yang brutal. Sejak Kelas 7, mereka menghadapi tekanan tak terhindarkan dari senior yang menggunakan "Permainan Sunat-Sunatan" sebuah ritual psikologis yang pelan-pelan berevolusi menjadi Sunat Tradisional Paksa yang nyata. Ketika satu per satu menyerah pada Pisau Lipat tumpul dan Penjepit Buku di ruang kelas yang terkunci, rasa sakit murni menjadi bukti kehormatan, dan Raka sendiri bangkit menjadi 'Mantri Informal' yang mengendalikan rasa takut teman-temannya. Novel ini menelusuri bagaimana ketakutan kolektif bertransformasi menjadi Budaya Kelas yang kejam, mencapai puncaknya di SMA ketika Raka berani menampilkan sunat paksa sebagai 'Pentas Seni Adat' yang kontroversial. "Kelas Sunat" adalah kisah epik tentang kehancuran persahabatan, penyiksaan yang dipuja, dan beban moral yang harus ditanggung para remaja yang menukar martabat pribadi mereka demi kekuasaan dan pengakuan dalam sistem yang mereka ciptakan sendiri.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • GHAIKA (REVISI)
  • I'm Not Just a Figuran
  • Transmigrasi Ziora
  • GRAVARENZO
  • Tsundere Maniak Susu
  • The Time
  • EVANESCENT
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines