Cress. Bunyi korek api menguliti sunyi, menjadi satu-satunya kehangatan yang jujur di bawah atap reyot yang digebuk hujan.
Dalam asap yang menyesakkan, "Aku" merenung, menatap arus sungai yang keruh. Di sana, mengalir bukan hanya air, melainkan "sisa manusia"-sampah moral yang hanyut menuju muara. Mereka yang punya lidah penuh makna, yang punya akal, namun tak punya hasrat untuk bertahan dari godaan dunia.
Sebuah pertanyaan tajam kemudian muncul, menunjuk pada rumput liar yang dianggap hama. Ilalang. Ia tak berharga, tak bermakna, namun gigih berpegangan pada akar, melawan setiap terpaan.
Di mana letak kemuliaan sejati? Pada manusia yang berkata penuh makna namun terseret arus, atau pada ilalang yang tak punya janji namun memilih untuk bertahan?
Sebuah prosa puitis yang gelap, getir, dan mempertanyakan ironi terbesar eksistensi manusia.
oleh Alipkan
All Rights Reserved