Transmigrasi ke novel bingung? Sedih? Putus asa sampai menangis?
Hohoho.
Maimunah justru merasa sebaliknya. Senang sampai rasa-rasanya mau membuat konser rakyat untuk merayakan perpindahan jiwanya.
Hidup Maimunah berubah 180 derajat: dari anak tukang mabuk yang miskin, tiba-tiba jadi putri konglomerat berkat transmigrasi. Senang? Pasti! Sampai ia sadar dia menduduki tubuh Revanya-si antagonis yang di novel asli bakal mati muda dengan akhir yang menyedihkan.
Tapi Maimunah bukanlah penyerah. Dengan percaya diri, dia yakin bisa mengakali takdir. Senjatanya? Kepintarannya dalam memanfaatkan orang. Sasaran empuknya? Si pria genius pendiam, teman kakaknya yang terkenal kebal cewek dan bermata elang bak pengintai. Awalnya, dia merasa jadi pemenang. Pria itu hanya diam, membiarkan dirinya 'dimanfaatkan' sebagai tameng hidup.
Dia mengira sedang memainkan sebuah permainan.
Dia mengira dialah sang manipulator.
Dia salah.
Kenyataan mulai menghantam ketika pria genius itu, yang seharusnya hanya jadi batu loncatan, justru mulai menunjukkan sisi lain. Setiap bantuannya bukan lagi sebuah kebaikan, melainkan sebuah jerat. Setiap tatapan diamnya bukan lagi ketidaktahuan, melainkan pengamatan mendalam.
Sekarang, Maimunah tersadar. Usahanya mengubah nasib malah menjerumuskannya ke dalam labirin yang lebih berbahaya. Bagaimana caranya kabur dari takdir kematian di novel, ketika jalan keluar yang dia pilih justru adalah jalan masuk ke dalam sangkar emas yang dibangun atas dasar tipu dayanya sendiri?
GAWATTT!!!! MAIMUNAH TERJEBAK!
All Rights Reserved