Kastil "De Montclair"

Kastil "De Montclair"

  • WpView
    Reads 5
  • WpVote
    Votes 1
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Thu, Jan 1, 2026
Di lembah Valmont yang diselimuti kabut pagi berdiri megah Château de Montclair, kediaman keluarga bangsawan tertua di Lysienne. Setelah kematian sang Duchesse, Duke Armand de Montclair hidup menyendiri bersama dua putrinya: Élise, yang tenang dan cerdas namun menyimpan kesepian, dan Céline, gadis enam belas tahun yang riang dan polos. Ketenangan kastil itu runtuh saat Geneviève de Saint-Clair datang - wanita bangsawan berusia dua puluh sembilan tahun yang anggun sekaligus berbahaya. Kehadirannya sebagai kekasih baru sang Duke memantik desas-desus, memecah keharmonisan keluarga Montclair, dan menarik Élise ke dalam pusaran politik istana yang tak pernah ia inginkan. Dalam pesta musim panas di Château, Élise bertemu Louis de France, duc d'Orléans - pangeran muda yang memandang dunia dengan kejujuran langka di tengah topeng bangsawan. Di balik tatapan lembutnya, Élise menemukan ketenangan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Namun cinta mereka terlarang: garis darah, kehormatan, dan takhta berdiri di antara mereka. Ketika Adrien de Valcour, Marquis de Valcour - bangsawan ambisius dan pewaris keluarga berpengaruh - mulai mendekatinya dengan janji perlindungan dan kekuasaan, Élise terjebak dalam dilema antara dua pria yang mewakili dua dunia: Louis, sang pangeran yang ingin mengubah dunia dengan cinta dan idealisme. Adrien, sang marquis yang ingin menaklukkan dunia, bahkan jika harus menghancurkan hati yang ia cintai. Sementara itu, bayangan Geneviève tumbuh semakin kuat di istana. Ia bukan sekadar kekasih Duke, melainkan bidak cerdas dalam permainan besar politik kerajaan - permainan yang perlahan mengancam seluruh keluarga Montclair. Di antara cahaya lilin dan gema langkah di aula batu, Élise harus memilih: melindungi keluarganya, mengikuti suar hatinya, atau menjadi bagian dari permainan kekuasaan yang tak mengenal belas kasihan.
All Rights Reserved
#697
darkromance
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Stand by Me (END+LENGKAP)
  • Salah Status
  • Prahara Lamaran [END]
  • Kembang Desa (Hiatus)
  • Nakula

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines