Alenora Crystabelle Athenara Richter Kusumahadinata percaya bahwa pernikahan adalah ikatan suci yang hanya boleh terjadi sekali seumur hidup, bersama seseorang yang bisa membimbingnya menuju surga. Namun di usia 27 tahun, ia belum pernah melihat contoh pernikahan yang ideal. Orang tuanya gagal, cintanya kandas, dan kepercayaannya terhadap ikatan suci itu perlahan memudar.
Hingga suatu malam, hidupnya berubah drastis. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Alenora dipaksa menikah dengan Teuku Malik Arvaya Rayyan Syah, cucu presiden sekaligus pewaris trah bisnis keluarga Syah yang tersohor di negeri ini dan Asia Timur. Pernikahan itu bukan dilandasi cinta, tapi hasil negosiasi dan rasa malu yang disembunyikan.
"Saya tidak akan minta apa-apa dari kamu," ucap Alenora tegas di hari pernikahan.
"Saya tidak ingin dianggap sama seperti keluarga yang lain. Saya hanya korban dan pengganti wanita gila itu."
Bagi Arvaya, Alenora hanyalah pengganti calon pengantin yang lari dari tanggung jawab. Namun semakin hari, tatapan tenang dan sikap mandiri Alenora mulai mengguncang keyakinannya sendiri. Di balik ketegasan dan jarak yang ia jaga, tersembunyi luka masa lalu yang belum sembuh-luka dari kehilangan, kekecewaan, dan ketakutan untuk mencintai.
Dalam rumah tangga yang dibangun atas kebohongan dan keterpaksaan, keduanya perlahan belajar bahwa cinta sejati tidak selalu muncul di awal pernikahan. Terkadang, pernikahan yang dimulai karena keterpaksaan justru menjadi jalan pulang bukan hanya untuk menemukan satu sama lain, tapi juga untuk menemukan Tuhan.
Selamat Membaca
Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang