Selena Desirae Nararya Atmaja tidak benar-benar berniat kabur dari rumah-setidaknya bukan pada awalnya. Ia hanya ingin sedikit ruang. Ruang untuk bernapas, berpikir, dan berhenti mendengar suara ayahnya yang terus meninggi setiap kali ibu tirinya membuka mulut.
Sejak wanita itu datang, hidup Selena berubah jadi semacam drama sinetron jam delapan malam: penuh sindiran, air mata, dan pintu yang dibanting. Dia sudah berusaha keras untuk menerima, tapi setiap senyum manis dari ibu tirinya terasa seperti jebakan yang dilapisi madu. Ia tidak benci ayahnya. Ia hanya... tidak tahan melihatnya buta oleh cinta yang salah.
Dan seperti semua kisah klasik dengan akhir yang bisa ditebak, yang kalah adalah Selena. Ia diusir-secara halus, tentu saja. Kalimatnya terdengar manis di mulut sang ayah: "Kau butuh waktu untuk menemukan dirimu sendiri, Selena." Padahal yang sebenarnya, ayahnya butuh waktu tanpa dirinya di rumah.
Jakarta bukan tempat yang buruk, tapi juga bukan tempat yang akrab baginya. Ia tidak punya siapa-siapa di sana. Tidak teman, tidak keluarga. Yang ia punya hanyalah unit apartemen mungil yang dibelikan ayahnya-semacam permintaan maaf yang dibungkus dalam bentuk kunci.
Dia mungkin akan mendapat pekerjaan atau belajar lagi, dia belum yakin saat itu, tetapi dia yakin semuanya akan baik-baik saja... sampai dia menyadari bahwa tetangga sebelahnya akan membuatnya terjaga sepanjang malam dengan semua bunyi benturan pada dinding.
=AUTHORIZED TRANSLATION=
Ini adalah terjemahan Bahasa Indonesia yang sudah memiliki ijin resmi dari penulis ya 😊🫶🏻
⭐️⭐️⭐️
Saat Arthit mengungkapkan persaannya, Daotok tidak tahu harus berbuat apa meskipun dia juga menyukainya.
Tapi, yang terjadi adalah Daotok menolaknya.
"Kau tertarik padaku karena kau belum pernah bertemu dengan orang sepertiku."
Meskipun begitu, Arthit adalah seseorang yang keras kepala, dia terus mengungkapkan perasaanya meski terus di tolak.