Everything I Ruined

Everything I Ruined

  • WpView
    Reads 17,144
  • WpVote
    Votes 1,824
  • WpPart
    Parts 28
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Fri, Jul 3, 2026
Tiga tahun berpacaran, dua tahun terikat pertunangan. Chealssy menghabiskan masa mudanya untuk menelan luka yang dibungkus rapi dengan harapan kosong oleh dua pria penting yang ada di hidupnya. Di mata tunangannya, Chealssy tak lebih dari kekasih yang tak bisa ia lepaskan begitu saja. Sementara di mata ayah kandungnya, Chealssy adalah aset berharga untuk kelancaran bisnis keluarganya. Masalah demi masalah selalu muncul, mulai dari asumsi buruk terhadap Hanif-tunangannya, dan juga tuntutan Adrian- ayahnya yang ingin segera menikahkan Chealssy dengan Hanif meski Chealssy belum lulus kuliah. Lalu, apakah semuanya akan berjalan lancar sesuai dengan rencana sang ayah? Ataukah semuanya hanya akan menjadi bayang-bayang semu? ❥ Psychological Distress Trigger Warn. 🎖️1 kuliah (July 2026) 🎖️1 lonely (Dec 2025) 🎖️1 slowburnromance (June 2026) 🎖️1 sembuh (June 2026)
All Rights Reserved
#2
kuliah
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • The Villain's Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Chasing Sanara

Di Fakultas Ilmu Budaya tempat Andini menuntut ilmu, terdapat satu keanehan yang mencolok: seorang dosen bernama Bapak Mahapraja Hapsari. Setiap kali mengajar, beliau selalu mengenakan kain batik sebagai bawahan. Beliau tidak pernah mengenakan celana kain. Kain tersebut dipadupadankan dengan kemeja berwarna teduh, seperti krim, cokelat muda, putih gading, hijau pupus, dan sesekali merah muda. Penampilannya selalu tampak rapi dan konsisten. Pada awalnya, ketika baru memasuki semester pertama, Andini mengira bahwa hal tersebut hanyalah gaya berbusana biasa. Namun, hingga memasuki semester ketiga, gaya berpakaiannya tidak pernah berubah. Pada suatu siang, karena rasa ingin tahu yang besar, Andini memberanikan diri bertanya secara langsung dengan sopan dan santun. Ia bertanya mengapa beliau tetap mengenakan kain lebar yang terkesan gerah di cuaca panas seperti ini. Dosen yang bertubuh besar dan kekar dengan kulit berwarna cokelat mengilat itu tidak segera menjawab. Ia justru balik bertanya, "Kamu bukan orang Jawa asli, bukan?" "Iya, Pak. Saya orang Sunda. Ibu saya yang berdarah Jawa," jawab Andini. Pria itu bergumam pelan, "Sayang sekali." Wajahnya seketika tampak muram. "Jika kamu benar-benar ingin tahu, temui aku di ruanganku pukul lima sore," ujarnya.

More details
WpActionLinkContent Guidelines