Panti asuhan bukan sekadar tempat tinggal bagi Zean dan keempat sahabatnya. Di sanalah mereka tumbuh, belajar, dan mengenal arti keluarga meski tanpa ikatan darah. Ketika masa kelulusan tiba, mereka memilih untuk melangkah keluar dan hidup mandiri. Bukan karena ingin pergi, melainkan karena ingin membuktikan bahwa mereka mampu berdiri di atas kaki sendiri. Keputusan itu membawa haru bagi orang-orang yang mereka tinggalkan, terutama Muthe-gadis yang tumbuh bersama mereka sejak kecil. Dengan restu orang tua panti, langkah baru pun dimulai. Namun perpisahan selalu menyisakan rasa yang sulit dijelaskan. Ada janji untuk kembali, ada rumah yang selalu menunggu, dan ada kenangan yang tak pernah benar-benar ditinggalkan. Ini adalah kisah tentang keluarga tanpa ikatan darah, tentang keberanian untuk tumbuh, dan tentang pamit yang bukan akhir dari segalanya.
More details