Tuan Alexander Damara

Tuan Alexander Damara

  • WpView
    Reads 17
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 7
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Jun 16, 2026
"Sebelum dia tahu, dia sudah menolak anakku." Kalimat itu terus Aleanaa pegang selama sepuluh tahun. Setelah malam yang menghancurkan hidupnya, ia memilih pergi dan membesarkan anaknya seorang diri di negeri orang. Kini takdir mempertemukan mereka kembali. Alexander Damara. Pria yang pernah ia cintai. Pria yang pernah menghancurkannya. Pria yang tidak pernah tahu bahwa ia memiliki seorang putra. Ketika rahasia demi rahasia mulai terungkap, siapakah yang akan lebih dulu hancur? Alexander yang kehilangan keluarganya? Atau Aleanaa yang selama ini berusaha melindungi hati anaknya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • The Last Yes!
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • De Andere Weg (END)
  • Chasing Sanara
  • I Won't Be the Tragic Fiancée
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • Almost Married (END)
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines