Tangisan Tanpa Suara

Tangisan Tanpa Suara

  • WpView
    Reads 110
  • WpVote
    Votes 50
  • WpPart
    Parts 36
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 7, 2025
Fajar Haryanto adalah seorang jenius. Di Sekolah Darmawangsa, ia adalah idola, siswa sempurna dengan IPK tertinggi, dan kebanggaan sekolah. Namun, di balik senyum sempurna itu, Fajar menyembunyikan neraka: bertahun-tahun kekerasan fisik dan emosional dari ayahnya yang kejam, Haryanto, yang terobsesi dengan kesempurnaan dan uang kiriman mantan istrinya. Demi bertahan, Fajar memilih untuk tidak pernah melawan. Ia memendam setiap rasa sakit, setiap ketakutan, setiap pukulan. Ia menangis tanpa suara, menjadikan keheningan sebagai satu-satunya tameng. Segalanya runtuh ketika Fajar difitnah mencuri uang kas oleh Agus, putra Kepala Sekolah, yang iri dengan kesempurnaannya. Fajar disudutkan oleh seluruh sekolah, dan yang terburuk, ia dipukuli Ayahnya sendiri hingga mengalami keruntuhan mental. Andi, sahabat Fajar, kembali dari pertandingan basket dan menemukan Fajar di ambang kehancuran. Bersama Risa, ibu kandung Fajar yang kembali dari luar negeri, Andi memulai pertarungan melawan kekuasaan Ayah Fajar dan kebohongan Agus. Mereka meraih kemenangan hukum yang manis: Ayah Fajar dipenjara, Agus dan ayahnya jatuh dari kekuasaan. Namun, kemenangan itu harus dibayar dengan harga yang mahal: Fajar terbaring koma karena trauma fisik yang parah, dan ia tidak pernah sadar lagi. Fajar pergi, meninggalkan keadilan yang dingin dan janji tak terucapkan kepada Andi untuk menjadi Suara bagi Tangisan Tanpa Suara-nya. Inilah kisah tentang kehancuran seorang jenius di bawah tuntutan kesempurnaan, persahabatan sejati yang menjadi pendorong keadilan, dan bagaimana kematian tragis satu orang mampu membongkar korupsi moral dan menjadi Warisan Tanpa Suara yang menyelamatkan ratusan jiwa. Apakah kebenaran dan keadilan sebanding dengan harga sebuah nyawa yang hilang?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Transmigrasi Ziora
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • The Time
  • Blueprint Pelarian Villain
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines