TAKHTA TANPA JIWA
Yogyakarta, 2005. Di usia 29 tahun, Raden Mas Hanggar Arisya merasa hidupnya bukan lagi miliknya. Sebagai pewaris takhta, ia terjepit di antara dua dunia: kecintaannya pada kebebasan modern bersama Alysia Verbeke, kekasihnya yang berjiwa liberal, dan tuntutan kolot para sesepuh keraton.
Bagi keraton, Alysia adalah ancaman. Wanita keturunan pahlawan-Belanda itu dianggap terlalu liar dan tidak akan sudi tunduk pada protokol paugeran yang kaku. Paman Hanggar, KGP Joyodiningrat, memberi ultimatum: Hanggar harus segera naik takhta demi stabilitas, namun syarat utamanya adalah menikahi Sekar Ayu, gadis ningrat yang dianggap "sempurna" karena kepatuhannya.
Hanggar membenci rencana itu. Baginya, Sekar hanyalah wanita yang "dijual" oleh keluarganya demi posisi politik. Namun, ancaman kudeta internal dan kesehatan ayahnya yang kian memburuk memaksanya menyerah. Ia terpaksa melepas Alysia dan menikahi Sekar dalam sebuah upacara megah namun hampa.
Maka dimulailah kehidupan Hanggar di dalam istana sebagai penguasa baru yang dingin. Ia memakai mahkota emas, namun batinnya mati. Ia berbagi ranjang dengan Sekar, namun tak pernah berbagi hati. Inilah awal dari Takhta Tanpa Jiwa, sebuah kisah tentang kekuasaan yang dibangun di atas reruntuhan cinta dan harga diri yang dikorbankan demi tradisi.