BITTERSWEET ENDING : PREQUEL HAPPY END [ HIATUS ]

BITTERSWEET ENDING : PREQUEL HAPPY END [ HIATUS ]

  • WpView
    Reads 222
  • WpVote
    Votes 23
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Sun, Dec 7, 2025
PREQUEL OF "HAPPY END" Aiden menemukan sebuah kutipan di dalam buku tua-yang ternyata adalah diary mendiang ibunya. "Andai aku tak melahirkan anak itu, rahimku tak akan diangkat, dan aku masih bisa memiliki seorang putri." - Olivia Salvante, 2024 Kalimat itu menusuk Aiden. Ia sadar, anak yang disebut ibunya bukan orang lain-melainkan dirinya sendiri. ⚠WARNING⚠ CERITA INI PURE HASIL PEMIKIRAN SENDIRI, JIKA ADA KESAMAAN ALUR ATAUPUN NAMA DAN LATAR, ITU HANYA KESAMAAN SEMATA.
All Rights Reserved
#60
aiden
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Nala dan Mas Juragan
  • Candu Sentuhan Sahabat Hyper
  • Nakula
  • Salah Status
  • Rencana Pensiun Dini Nona Villain
  • Hello Mr. Komrad (Complete)
  • Kembang Desa
  • Prahara Lamaran [END]
  • EGLLAR MY PERFECT HUSBAND [END]
  • Stand by Me (END+LENGKAP)

Setelah menyelesaikan kuliahnya, Kanala Ayudia Kirana (22) diminta oleh keluarganya untuk pulang ke kampung halaman dan tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan di ibu kota. Namun, Nala menolak dengan alasan tidak ingin menyia-nyiakan gelar di belakang namanya. Ia bersikeras ingin mencari pengalaman kerja selama satu tahun terlebih dahulu sebelum benar-benar menetap di kampung. Keluarganya akhirnya menyetujui, dengan satu syarat: Nala hanya boleh bekerja selama satu tahun, tidak lebih. Sayangnya, baru tiga bulan bekerja di salah satu perusahaan ternama, Nala menyerah. Tekanan pekerjaan yang tinggi dan lingkungan kantor yang tidak sesuai dengan ekspektasinya membuatnya kehilangan semangat. Ia pun memutuskan untuk mengundurkan diri dan berdiam diri di kosan, tanpa keberanian untuk memberi tahu keluarganya. Raras-ibu Nala-yang kemudian mengetahui anak bungsunya sudah tidak bekerja lagi, segera mendesaknya untuk pulang. Sebelum Nala sempat menolak, Raras lebih dulu mengancam tidak akan lagi mengirimkan uang bulanan. Terpojok dan kehabisan pilihan, Nala akhirnya menyerah. Ia berkemas dan pulang ke kampung halamannya. Namun siapa sangka? Di antara hamparan sawah dan hari-hari yang membosankan di warung milik ayahnya, hadir Hanggara Wiratama (31), juragan tanah sekaligus pemilik peternakan ayam terbesar di desa tetangga, selain itu ia juga menjalankan usaha jual-beli beras yang ia bangun dari nol, tak lupa dengan usahanya di kota yang tidak banyak diketahui orang. Sosoknya yang tenang dan apa adanya membuat Nala belajar bahwa pulang bukan berarti kalah, melainkan menemukan tempat untuk tumbuh. Bersamanya, Nala menyadari bahwa tidak semua mimpi harus dikejar jauh ke kota, sebagian justru menunggu untuk ditemukan di rumah.

More details
WpActionLinkContent Guidelines