Seen by 1

Seen by 1

  • WpView
    Reads 20
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 12, 2025
Kadang, yang paling susah dilupain bukan yang paling romantis, tapi yang paling tulus - tanpa pernah jadi apa-apa. Alyra dan Arafah pertama kali ketemu di dunia nyata - di acara kolaborasi sekolah pas SMP dan SMA. Awalnya cuma saling kenal biasa, tukeran akun media sosial, dan nggak pernah nyangka kalau obrolan kecil di chat bakal berubah jadi sesuatu yang berarti. Arafah, dengan gaya kalem dan jokes sarkasnya, selalu jadi tempat Alyra balik ketika dunia rasanya berat. Dari curhat soal tugas, konflik teman, sampe patah hati - semuanya lewat pesan panjang tengah malam. Dan tanpa sadar, dari sekian banyak orang, cuma satu nama yang bisa bikin Alrya ngerasa aman: Arafah. Tapi waktu tetap jalan. Mereka tumbuh, sibuk, terpisah kota - Arafah kuliah di Makassar, Alyra masih di Surabaya. Hubungan mereka tetap ada... tapi pelan-pelan berubah jadi "cuma liat story, cuma baca status, cuma 'seen'." Dan di saat Alyra mulai belajar menerima bahwa mereka mungkin nggak akan balik kayak dulu, notifikasi baru muncul - dari saluran yang dibuat Arafah, dengan caption yang seketika membuat semua kenangan yang sempat tenang, berjatuhan satu per satu kembali ke dalam pikirannya.
All Rights Reserved
#119
melancholy
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora
  • The Time
  • Tsundere Maniak Susu
  • GHAIKA (REVISI)

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines