Bhatera Yang Tidak Akan Pernah Karam

Bhatera Yang Tidak Akan Pernah Karam

  • WpView
    Reads 2
  • WpVote
    Votes 0
  • WpPart
    Parts 1
WpMetadataReadComplete Thu, Nov 13, 20256m
WpInfo
Fiction
Social Themes
Tagscerpen
Pagi yang tenang berubah menjadi tegang ketika Riesta, seorang ibu rumah tangga, mendengar suara pecahan dari ruang laundry. Ia menemukan mesin cucinya meledak, namun beruntung dirinya tidak terluka. Saat suaminya, Wibawa, pulang dari kerja malam, ia merasa lega istrinya selamat. Namun kejadian itu menimbulkan tanda tanya ketika tukang servis menemukan sendok di dalam mesin cuci. Sejak saat itu, Wibawa mulai menyadari keanehan pada diri istrinya. Riesta sering lupa, bahkan mengingat hal-hal yang tak pernah terjadi, seperti memiliki seorang anak yang sebenarnya tidak ada. Wibawa yang diliputi rasa cemas memutuskan membawa istrinya ke dokter. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa Riesta mengalami amnesia parsial akibat stres dan kelelahan berat, membuat ingatannya bercampur dengan bayangan masa lalu yang salah. Meski terkejut dan sedih, Wibawa tetap sabar dan penuh kasih. Ia menenangkan Riesta dengan keyakinan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah. Dalam ketulusan cinta dan doa, mereka berjanji untuk saling menjaga dan memulai kembali kehidupan rumah tangga mereka dengan iman dan kesabaran. Cerita ini menggambarkan arti keluarga sakinah, di mana cinta, kesabaran, dan keimanan menjadi kekuatan utama dalam menghadapi ujian hidup.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Coffe Latte
  • What If I Never Met You
  • ALEA: Gerbang Ketiga-Di Balik Pintu Tak Bernama
  • ATHASYA [TERBIT] ✓
  • Nyangga
  • Rindu Itu Luka
  • Untuk Anggun, Dari Aisy
  • Penghulu Bidadariku S2 : Aisyah Humaira

"Kakaknya mau coba coffe latte nggak, biar nggak ngantuk" wajahnya sekarang berjarak kurang dari 30 centi dariku. "Mana?" Tanpa permisi dia menarik leherku dan menciumku, menyuruhku merasakan coffe latte yang barusan diminum olehnya. Sialan. Kudorong dirinya dan berusaha menjauh darinya. "Ish....kamu ya..." antara shock, kaget atau marah. Dia pria pertama yang merebut ciumanku yang kujaga selama ini demi calon suamiku nanti. Dan dia merebutnya tanpa permisi. "Aku suka sama kakak. Makanya aku berani cium kakak" ujarnya tanpa dosa. Untung perpustakaan tidak ada pengunjung dan di luar gedung pun tidak ada orang lewat. "Mencium seseorang itu harus minta ijin dulu. Lagian kamu itu masih kecil, umur kita beda jauh dan lagi kamu masih sekolah dan..." "Aku nggak peduli apa yang dipikirkan orang lain. Kita menyukai siapa kan hak kita. Kalau aku suka ya aku bilang suka kalau enggak ya aku bilang enggak. Emang kakak nggak suka sama aku?" ucapnya memotong kata-kataku yang ingin menjelaskan kalau apa yang dirasakannya ini salah dan tak mungkin hubungan seperti ini berhasil.

More details
WpActionLinkContent Guidelines