Where Logic Meets Healing

Where Logic Meets Healing

  • WpView
    LECTURAS 1,885
  • WpVote
    Votos 303
  • WpPart
    Partes 11
WpMetadataReadContinúa
WpMetadataNoticeÚltima publicación mar, jul 28, 2026
Pangeran Evander Harris Wiratmadja lahir dari keluarga darah biru yang bercampur politik. Di usia tiga puluh tujuh tahunnya, misinya ialah duduk di kursi kabinet. Sebuah syarat di berikan sang ayah jika Harris ingin karir politiknya lancar. Alhasil, Harris terpaksa menerima perjodohan yang dinahkodai sempurna oleh kedua orang tuanya. Bertemu dengan Shazfiona Pramoedya Miranda, dokter umum di rumah sakit yang dimiliki oleh ayah Harris. Sang ayah menyarankan Harris untuk menikah dengannya. Harris yang selalu percaya bahwa hidup harus dikendalikan. Setiap keputusan diperhitungkan. Setiap langkah direncanakan. Perasaan? Tidak relevan dan tidak perlu dilibatkan. Sampai Fiona hadir dalam hidupnya. Bukan sebagai pilihan, melainkan sebagai kesepakatan. Dokter yang terbiasa teliti dan memiliki empati yang seimbang. Sang puan yang dinilai Harris akan langsung tunduk pada kesepakatan, malah terkekeh ringan. "Pernikahan yang anda tawarkan, tidak seperti yang saya harapkan." "Memangnya pernikahan apa yang kamu harapkan?" Fiona dengan berani menatap mata Harris. "Pernikahan yang enggak cerai." Pungkasnya. __________________________________________
Todos los derechos reservados
#12
leeminho
WpChevronRight
Únete a la comunidad narrativa más grandeObtén recomendaciones personalizadas de historias, guarda tus favoritas en tu biblioteca, y comenta y vota para hacer crecer tu comunidad.
Illustration

Quizás también te guste

  • The Villain Mother
  • Be My Wife
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • My Celestia [ON GOING]
  • Hello, KKN!
  • The Last Yes!
  • Pawang Hantu Om Aktor
  • Kedhaton Soeraandaru Hadiningrat
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • Nala dan Mas Juragan

HAPPY READING ❤️‍🔥 Nama Thania digunakan untuk interaksi luar/fisik, sedangkan nama Zeva digunakan untuk kesadaran/jiwa aslinya di dalam hati. Ini sengaja saya bedakan agar konflik batinnya lebih terasa. Selamat membaca!" --- "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

Más detalles
WpActionLinkPautas de Contenido