Ucapan tajam ibarat senjata mematikan. Namun apa jadinya jika kata-katamu sendiri justru menyeretmu ke dalam neraka yang kauciptakan?
Liyan, pemuda yang gemar mencela kekurangan karya orang lain. Baginya, kritik pedas telah menjadi bagian dari dirinya. Hingga suatu malam, ia menemukan sebuah novel misterius di internet yang mengubah hidupnya selamanya.
Merasa cerita itu buruk, ia dengan yakin mengklaim bahwa dirinya mampu menciptakan kisah yang jauh lebih baik.
Kalau begitu... buktikan.
Saat jari Liyan mulai mengetik judul novelnya sendiri, cahaya menyilaukan tiba-tiba menelan seluruh ruangan.
Ketika membuka mata, ia telah berada di dunia asing yang kejam. Sebuah dunia yang hanya mengenal satu hukum:
Yang kuat menindas yang lemah.
Dan yang paling mengerikan...
Inilah dunia tempat ia harus mengukir kisah hidupnya sendiri.
Terjebak sebagai tokoh utama, Liyan dipaksa menjalani kisah yang harus ia tulis sendiri. Tanpa jalan pulang, ia hanya bisa bertahan hidup di tengah pertumpahan darah.
Di saat tergelap, takdir menghadiahkan kepadanya sebuah kekuatan terlarang.
Entitas Mata tingkat tertinggi yang tak memiliki asal-usul. Mata ilahi yang mampu melihat segala rahasia dan menentukan akhir dari segala sesuatu.
Baginya, mata itu adalah pedangnya.
Satu tatapan... cukup untuk menentukan hidup atau mati seseorang.
Namun kekuatan itu juga merenggut sesuatu yang jauh lebih berharga. Kehilangan demi kehilangan perlahan mengubahnya. Dari seorang pemuda yang gemar mencela, menjadi sosok dingin yang membuat seluruh benua gentar.
Meski kelak ia mampu merobek dimensi, takdir masih belum melepaskannya. Ia harus terus mengembara dari satu dunia ke dunia lain, mengukir sejarah mereka dengan penanya sendiri.
POV LIYAN:
"Di mana pun aku melangkah, di dunia mana pun aku berpijak, aku datang bukan hanya untuk mencari sejarah, tetapi juga untuk mengukirnya dengan penaku di tanganku. Dan jika ada yang berani menghalangi jalanku... mataku akan menentukan akhir dari takdirnya."
All Rights Reserved