Di bawah konstelasi yang sama, namun terpisah oleh waktu dan samudra, jalinan cinta kami hanyalah seutas benang tipis sebuah getar suara di penghujung malam. Aku, berdiri di sisi sederhana, dan engkau, tersemat di benua yang menjanjikan kemegahan.
Kami selalu tahu ada jurang yang menganga. Bukan hanya jarak, melainkan jurang yang diukur oleh ijazah, silsilah, dan ketebalan dompet. Namun, keberanianmu mendobrak sunyi dan menyebut namaku di hadapan Ayahmu yang terpelajar, seketika mengubah segalanya menjadi ruang sidang sunyi.
Pertanyaan-pertanyaan tentang gelar dan penghasilan meluncur seperti peluru, merobek dinding pertahanan dan menguak bayangan gelap yang selama ini kusembunyikan. Restu yang kami damba kini terasa seolah mahkota yang tak layak kusentuh.
Kami tak setara. Aku tahu. Tetapi hati kami memberontak terhadap dalil usang tentang kesempurnaan. Dalam kebingungan, di tengah takut akan penolakan, hanya satu yang tersisa sebuah doa yang dipaksa lantang di langit yang sama.
Akankah cinta mampu melunakkan kerasnya jurang pemisah ini? Ataukah kami akan selamanya menjadi kisah pilu tentang dua hati yang terjebak di garis yang tak pernah bertemu?