Langit malam terbelah oleh kilatan petir, diikuti gemuruh yang menggelegar. Di tengah hujan yang mengguyur tanpa ampun, seorang wanita berdiri sendirian. Tubuhnya yang basah kuyup menggigil hebat, bukan hanya karena dinginnya air hujan, tetapi juga karena luka di hatinya. Air mata yang panas bercampur dengan air hujan yang dingin, mengalir tak terbendung di pipinya. Isak tangisnya tersedak-sedak, hilang ditelan deru angin dan rintik hujan yang tak henti
"He should've been the one here with me," bisik Skyla lirih, hatinya hancur berkeping-keping. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan, berharap hujan bisa membersihkan semua rasa sakitnya
Tiba-tiba, rintikan hujan yang menghujani tubuhnya berhenti. Sebuah bayangan melindunginya. Dengan mata yang berkaca-kaca, Sky menoleh. Jantungnya berhenti berdetak. Di sana, berdiri Leo dengan payung yang terkembang. Wajahnya terlihat berkerut menahan perasaan rumit yang sama
"Jangan nangis, Ky. Gue ga bisa liat lo kayak gini," suaranya rendah, serak, nyaris tenggelam oleh gemuruh hujan
Kalimat itu menyentuh sesuatu di dalam diri Sky, namun juga memicu amarah. Bagaimana dia berani meminta untuk berhenti menangis? Bukankah dialah salah satu sebab mengapa air mata ini harus tumpah? Leo, lelaki yang dipilihkan orang tuanya untuknya. Kehadirannya mengingatkannya pada satu hal: dialah alasan hubungannya dengan sang mantan kekasih harus berakhir pahit. Lelaki yang meski tak pernah ia inginkan, kini hadir justru di saat ia paling rapuh, dengan ucapan yang membuat hatinya semakin kacau.
All Rights Reserved