Hello, Office Hours!

Hello, Office Hours!

  • WpView
    Reads 4,410,985
  • WpVote
    Votes 439,790
  • WpPart
    Parts 54
WpMetadataReadMatureComplete Mon, Jun 22, 2026
#KKNSeries3 "Looks like you're mine only in office hours." 🌼🍀 Cleona Kagumi hanya membutuhkan satu hal: uang. Sementara Arkayesa bisa memberi dua hal: pekerjaan dan bantuan finansial yang dibayar setara. Hingga muncul satu malam yang diisi oleh transaksi rahasia. Yang mereka sepakati untuk lupa. Namun, ketika intensitas pertemuan di jam kantor malah mendukung ingatan untuk kian lekat, bagaimana bisa mereka tetap harus bekerja dalam satu ruangan yang sama? Sebagai Project Manager, Yesa selalu menemukan cara yang sempurna untuk menyita waktu Cleona. Sebagai Assistant Project Manager, Cleona kadang butuh ruang untuk bernapas dari segala sesak bekerja. Resign akan menjadi pilihan sempurna bagi Cleona. Jika saja ... ingatan tentang 'transaksi rahasia' yang mereka punya, tidak terbongkar dengan tiba-tiba. 15/11/2025
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • Almost Married (END)
  • De Andere Weg (END)
  • The Last Yes!
  • Nala dan Mas Juragan
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Chasing Sanara
  • DOMINEX | The Crime Lock

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines