Little Secretary Leon (END)

Little Secretary Leon (END)

  • WpView
    Reads 13,277
  • WpVote
    Votes 828
  • WpPart
    Parts 67
WpMetadataReadMatureComplete Sat, Jun 13, 2026
𝐆𝐫𝐞𝐞𝐧 𝐑𝐨𝐦𝐚𝐧𝐜𝐞 • 𝐒𝐥𝐨𝐰 𝐁𝐮𝐫𝐧 • 𝐂𝐥𝐞𝐚𝐧 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐲 Tidak semua pria datang dengan janji. Sebagian datang dengan kehadiran tenang, konsisten, dan tidak memaksa. Zalleon Jordan Byantara, seorang CEO yang dikenal ramah namun profesional, tidak pernah berniat menyelamatkan siapa pun. Ia hanya percaya pada satu hal: jika bisa membantu tanpa melukai, maka lakukanlah dalam diam. Calista Eleanor Azzura, sekretaris barunya, adalah perempuan yang berhenti percaya pada cinta. Trauma mengajarkannya bahwa pria yang terlihat baik sering kali hanya indah di awal, lalu berubah menjadi luka di akhir. Pertemuan mereka bukan tentang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ini tentang kepercayaan yang tumbuh pelan-pelan. Tentang perhatian kecil. Tentang hadir tanpa menuntut. Tentang lima bahasa cinta yang ditunjukkan lewat tindakan, bukan kata-kata. Karena mungkin, cinta paling aman... adalah cinta yang tidak pernah memaksa untuk dipercaya.
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • The Villain Mother
  • I Won't Be the Tragic Fiancée (END)
  • Chasing Sanara
  • De Andere Weg (END)
  • Nala dan Mas Juragan
  • Almost Married (END)
  • DOMINEX | The Crime Lock
  • SASMITA CANDALA (21+)
  • Revenge Marriage (SELESAI)
  • The Last Yes!

HAPPY READING ❤️‍🔥 "Eungghh..." Zeva mengerang. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang serasa berat dan berdenyut. Saat ia mencoba menggerakkan badan, tulang-tulangnya terasa kaku dan pegal luar biasa. "Nyonya? Nyonya Thania sudah sadar?!" sebuah suara parau penuh haru terdengar di dekat telinganya. Zeva mengerjap-erjapkan matanya yang masih buram. Begitu pandangannya fokus, ia tidak melihat langit-langit putih rumah sakit atau wajah panik orang tuanya. Alih-alih, ia menatap langit-langit kamar mewah dengan desain interior klasik yang sangat asing. "Aduh, kepala gue..." Zeva memegang keningnya, lalu menoleh ke samping. Ia terlonjak kaget melihat seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan sedang menangis sesenggukan sambil memegang tangannya. "Akhirnya Nyonya bangun. Bibi takut sekali Nyonya kenapa-kenapa." Zeva mengernyitkan dahi. "Nyonya? Bibi?" Ia bangkit duduk dengan perlahan meski kepalanya masih berputar. Ia memandangi tangannya yang tampak lebih dewasa, lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar yang luasnya tidak masuk akal itu. "S-siapa ya? Terus... ini di mana? Kok gue bisa di sini?" tanya Zeva dengan nada bingung sekaligus waspada. Wanita yang menyebut dirinya Bi Minah itu langsung terdiam, matanya membelalak kaget. "Nyonya... Nyonya tidak ingat saya? Ini rumah Nyonya sendiri, rumah Tuan Devan." Zeva tertegun. Nama-nama itu terasa tidak asing. Otaknya mencoba memproses informasi tersebut sampai akhirnya ia teringat buku novel yang ia lempar ke sofa tadi malam. "Bentar... jangan bilang gue masuk ke novel sampah itu?" gumam Zeva dengan wajah pucat pasi.

More details
WpActionLinkContent Guidelines