ALSEAN, "Ampun, kaka pesantren!"

ALSEAN, "Ampun, kaka pesantren!"

  • WpView
    Reads 89
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 6
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Tue, Dec 16, 2025
⛔ DILARANG KERAS PLAGIAT! MIKIR TUH SUSAH! PLAGIAT JAUH-JAUH, HUSS!! ⛔ Hai bro, kenalin nama gue Alsean Zefrano Erlangga. Lo bisa panggil gue Al atau Sean. Tapi gue lebih suka dipanggil Al. Tapi anehnya banyak orang yang suka panggil gue Sean, padahal gue nggak suka! Oh ya, umur gue baru 21 tahun. Masih muda lah ya, sebenernya dua bulan lagi sih baru injak 21, hehehe. Gue anak ke dua dari lima bersaudara. Kakak gue namanya, Biru. Sabiru Naverlla Erlangga. Cantik sii... tapi lebih cantik kan cewek-cewek gue. HAHA canda... gue ini bukan tipe cowok buaya. Malahan sampe sekarang gue belum punya cewek. Temen-temen gue, julukin gue sebagai cowok jomdi-si jomblo abadi. Padahal gue udah berusaha nyari cewek, tapi nggak ada satupun yang gue rasa cocok sama gue. Berbagai app dating udah gue coba. Dan ya! Pada akhirnya gue nyerah. Gue udah males ngurusin soal cewek lagi, sampai akhirnya nyokap dan bokap gue jodohin gue sama cewek alim dari pesantren. What?! Mana bisa seorang gangster kayak gue dinikahin sama ukhti ukhtian? Bukan masalah tipe gue, tapi apa nggak kasian sama tuh cewek? Nimba ilmu malah dapet gue yang nggak bisa diandelin. Ya... kata orang gue cuman cowok brandalan yang hobinya berantem, pulang malam, party, dan balap liar. Dan semua itu juga enggak salah si. Bahkan bokap gue udah cukup capek ngasih peringatan terus ke gue. Tapi ya.. tetep aja gue budek dan nggak nanggepin apapun. Mungkin ini yang jadi alasan dia buat ngejodohin gue sama cewek alim itu. Tapi Mau Dibawa ke mana muka sangar gue cok?! Ah sial! Tahu ah, lo liat aja bakalan gimana kisah gue nanti. Gue mau nangis di pojokan dulu huwaaa!!!
All Rights Reserved
#121
gangster
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora
  • GHAIKA (REVISI)
  • EVANESCENT
  • GRAVARENZO
  • The Time
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • I'm Not Just a Figuran

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines