Rumah Tanpa Cahaya

Rumah Tanpa Cahaya

  • WpView
    Reads 12
  • WpVote
    Votes 4
  • WpPart
    Parts 2
WpMetadataReadMatureOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Dec 17, 2025
Dari luar, keluarga Adistya terlihat sempurna. Ayah yang dihormati, ibu yang lembut, dan tiga anak yang tumbuh dalam cinta. Namun itu semua cerita enam tahun lalu-sebelum satu tragedi menghancurkan segalanya. Sekarang, rumah yang dulu penuh tawa berubah menjadi tempat sunyi yang dipenuhi amarah dan luka yang tak pernah sembuh. Ayah menghilang tanpa jejak, ibu tenggelam dalam kemarahan dan alkohol, dan dua adiknya hanya punya satu tempat berlindung: Deya Adistya Calista. Deya tidak kuat. Ia hanya belajar bertahan karena ia tidak punya pilihan lain. Ia menjadi kakak, ibu, sekaligus rumah bagi dua malaikat kecil yang masih percaya dunia itu baik. Sementara dirinya sendiri retak perlahan, bersama harapan-harapan yang sudah lama hilang. Deya tahu masa lalu tidak bisa kembali. Namun ketika kenangan-kenangan lama mulai muncul dan kebenaran yang ditutupi mulai pecah, ia harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia mampu terus bertahan dalam kegelapan- atau kebenaran itu justru akan menghancurkan sisa keluarganya untuk selamanya?
All Rights Reserved
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT
  • GHAIKA (REVISI)
  • Tsundere Maniak Susu
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • Blueprint Pelarian Villain
  • Transmigrasi Ziora
  • GRAVARENZO

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines