The Quiet Heiress

The Quiet Heiress

  • WpView
    Reads 8
  • WpVote
    Votes 5
  • WpPart
    Parts 5
WpMetadataReadOngoing
WpMetadataNoticeLast published Wed, Nov 19, 2025
WpInfo
Fiction
Romance
Semuanya berawal dari satu putaran botol yang seharusnya cuma jadi hiburan malam di vila paling mahal se Jakarta. Tapi permainan itu berubah begitu Revano si paling cool, si paling misterius, membuka mulut. "deketin temennya Helen." Ruangan langsung hening. Liora kesal karena sebagai ceweknya tidak nerima, Selveira kecewa, Kean tak percaya, dan Elvano... hanya menatap Revano tanpa berkedip. dengan imbalan hadiah Rolls-Royce Boat Tail. Dan satu black card. Semua orang langsung syok. Hadiah itu bukan hadiah main-main, itu godaan yang bahkan anak konglomerat pun bisa goyah. Dan Elvano? Bukannya menolak, dia malah menyandarkan tubuhnya, tersenyum tipis, lalu berkata "Gua setuju." Satu jawaban itu cukup untuk mengubah semua. Hubungan. Kepercayaan. Dan seluruh hidup seseorang. Karena targetnya bukan cewek sembarangan. Cewek itu adalah Alebya. Sosok yang tidak tahu apa-apa tentang permainan busuk yang melibatkan namanya. Sosok yang tanpa sadar, sedang berjalan langsung ke tengah lingkaran berbahaya TCS. Semuanya dimulai dari satu tantangan. Tapi bagaimana akhirnya? Apakah Elvano benar-benar berhasil? Dan... apakah Alebya bisa melewati ini semua?
All Rights Reserved
#15
sekolahelite
WpChevronRight
Join the largest storytelling communityGet personalized story recommendations, save your favourites to your library, and comment and vote to grow your community.
Illustration

You may also like

  • Berandalan di Mata Sang Tuan Muda.
  • Tsundere Maniak Susu
  • Transmigrasi Ziora
  • ATLANTIS 2: PANGLIMA
  • The Time
  • I'm Not Just a Figuran
  • EVANESCENT (HIATUS)
  • GHAIKA (REVISI)
  • GRAVARENZO
  • Blueprint Pelarian Villain [END]

​Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai semen SMA Nusantara Bakti seolah menjadi satu-satunya melodi yang akrab di telinga Arga. Matahari Jakarta yang menyengat di jam 12 siang sama sekali tidak ia gubris. Peluh membasahi jersey birunya, mengalir melewati leher dan hilang di balik kain yang sudah basah kuyup. ​Bagi Arga, hanya di lapangan ini dunia terasa jujur. Di sini, musuhnya jelas: ring basket dan lawan main. Tidak ada teriakan ibunya yang melengking menyalahkan takdir, tidak ada bau alkohol dari ayahnya yang pulang pagi membawa tumpukan utang baru, dan tidak ada beban rasa bersalah setiap kali melihat kakaknya pulang kerja dengan wajah pucat demi membiayai sekolahnya. ​"Arga! Berhenti main atau gue laporin ke BK karena bolos jam sejarah lagi!" ​Arga menghentikan dribel bolanya. Ia menoleh, menyeka keringat dengan punggung tangan, lalu menyeringai tipis melihat pengurus OSIS yang berdiri di pinggir lapangan dengan buku catatan. ​"Laporin aja," sahut Arga santai. "Ruang BK udah kayak rumah kedua buat gue, sekalian titip salam buat Pak Hendra." ​Di sisi lain koridor sekolah yang lebih dingin karena hembusan AC, melangkah sosok yang menjadi pusat gravitasi SMA Nusantara Bakti. Adrian. ​Setiap langkahnya terukur, seragamnya rapi tanpa cela, dan wajah blasterannya yang seolah dipahat langsung oleh malaikat, selalu memasang ekspresi datar yang sulit ditembus. Sebagai Ketua OSIS sekaligus putra tunggal dari pemilik Arsenio Group, Adrian adalah definisi kesempurnaan yang nyata. Hidupnya adalah garis lurus yang tenang, penuh fasilitas, dan kasih sayang yang melimpah. ​⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖⊹ ࣪ ﹏𓊝﹏𓂁﹏⊹ ࣪ ˖ WARNING ⚠ - b×b - BL lokal - Mpreg - ini cerita bl, awas jangan salah lapak. - banyak typo bertebaran.

More details
WpActionLinkContent Guidelines